Beranda > Info SMPN 1 Singajaya Garut, Pendidikan > MODUL RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH (RPS)

MODUL RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH (RPS)

RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH

A. PENDAHULUAN

Suatu tantangan yang besar di hadapi sekolah sebagai unit satuan pendidikan adalah meningkatkan kualitas hasil lulusan atau out put , kualitas penampilan dan kualitas pelayanan sehingga kepala sekolah dalam memainkan fungsi dan perannya harus mampu membuat sekolah dapat berhasil, memenangkan persaingan kualitas hasil, penampilan dan pelayanannya. Salah satu cara untuk menjamin dalam memenangkan persaingan kualitas tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas dan produktifitas manajeman.

Di era global ini manajemen tradisional dalam pengelolaan sekolah tidak akan mampu bertahan terhadap dampak dari globalisasi itu sendiri serta paradigma yang begitu cepat berubah dan berkembang. Perubahan memang merupakan suatu kunci untuk bertahan dalam suatu persaingan namun demikian perubahan yang terjadi bukanlan sesuatu yang terjadi secara kebetulan saja akan tetapi harus direncanakan, minimal di konsultasikan atau dipikirkan karena perubahan itu juga tidak bejalan begitu saja oleh karena itu perubahan perlu di kelola dengan baik. Sekolah tidak dapat menghindari hambatan atau perlunya melakukan perubahan.

Perubahan ini tidak sekedar menambah apa yang sudah ada seperti misalnya menambah guru dan gedung sekolah dll. Tetapi juga perlunya melakukan perubahan secara terencana, terprogram dengan lebih baik atara lain dapat meningkatkan perubahan-perubahan misalnya: dapat menambah yang sudah ada dengan yang lebih baik atau melaksanakan yang sudah pernah dilakukan dengan cara yang lebih baik. ,menambah guru yang bergelar sarjana, membangun gedung sekolah dilengkapi penyejuk udara, atau meningkatkan efisiensi dalam kegiatan penambahan ., meningkatkan efektivitas sistem yang sudah ada dengan membenahi komponen-komponen tertentu, misalnya mengembangkan pendekatan baru dalam proses belajar mengajar, menyediakan berbagai macam media pembelajaran, atau meningkatkan efektivites sistem dengan memperbaiki berbagai komponen dalam pendidikan ( increasing the effectineness of the present by rearranginng its components). Atau dapat juga melekukan perubahan dengan cara merombak sistem untuk memberi kesempatan kepada setiap pembelajar ( siswa ) untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kondisi, situasi, dan kebutuhannya seperti misalnya memberikan kesempatan belajar dengan aneka sumber, melakukan penilaian hasil belajar dengan mempertimbangkan karakteristik pembelajar, atau berarti mengembangkan hal-hal baru yang berbeda dengan sebelumnya (doing it differently ).

Dengan demikian sekolah sangat perlu sekali melakukan perubahan terencana dengan baik atau dengan kata lain perlunnya membuat suatu rencana pengembangan sekolah. Dalam modul ini akan dibahas mengenai: Pengelolaan perubahan Sekolah, Rencana Strategi Sekolah, Rencana Anggaran Pendapatan Belaja Sekolah dan Pengukuran Kinerja Sekolah.

B. TUJUAN
Setelah menyelesaikan modul ini, diharapkan akan memiliki kemampuan :
1. Menguasai konsep dasar perubahan untuk menyusun rencana pengembangan sekolah
2. Menguasai tentang teknik-teknik dan pentahapan untuk melakukan perubahan sekolah
3. Menguasai konsep dasar penyusunan rencana strategis sekolah sebagai upaya penyusunan program yang sinergis, sistematis dan berkesinambungan.
4. Menyusun rencana strategis sekolah untuk jangka menengah dan jangka panjang, serta program kerja tahunan atau rencana kinerja tahunan
5. Melaksanakan rencana strategis sekolah sesuai dengan program dan pentahapan yang telah ditetapkan.
6. Memahami Struktur perencanaan anggaran disekolah
7. Memahami langkah-langkah penyusunan RAPBS
8. Memahami Kelengkapan –kelengkapan dalam penyusunan RAPBS
9. Mengenal pelbagai format dan cara pengisian dalam penyusunan RAPBS
10. Menguasai konsep dasar penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekolah.
11. Menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekolah setiap akhir tahun
12. Menyusun rencana tindak lanjut hasil Laporan Akuntabilitas Sekolah.

C. METODOLOGI
Metode dalam pendidikan dan pelatihan ini untuk mendorong aktifitas dan kreatifitas peserta digunakan metode penyajian sebagai berikut” :
 Pemaparan konseptual dalam bentuk ceramah
 Diskusi Kelompok
 Dialog interaktif
 Penugasan
 kerja idividual
D. ALUR KEGIATAN

E. MENGELOLA PERUBAHAN SEKOLAH

Perubahan pendidikan menuntut adanya cara berfikir dan bertindak yang berbeda dari apa yang telah ada, dengan mengadakan diagnosis secara menyeluruh atau perubahan paradigma dengan pendekatan yang sistemik. Paradigma yang sistemik, kecuali bersifat menyeluruh, harus pula memperhatikan bahwa perubahan mendasar pada salah satu aspek pendidikan, akan memperngaruhi perubahan mendasar pada aspek lain.

Perubahan itu dapat dibedakan dalam empat lapis sistem yang saling berkaitan. Pada lapis pertama adalah perubahan pada pengalaman belajar; lapis kedua pada sistem belajar-pembelajaran yang memungkinkan terlaksananya pengalaman belajar yang diinginkan seperti misalnya didalam sekolah. Lapis ketiga adalah perubahan sistem pada pengelolaan sistem wilayah, yang mendukung terselenggaranya sistem pembelajaran dan lapis keempat adalah perubahan pada sistem perundangan yang mengatur dan menjamin berlangsungnya keseluruhan sistem pendidikan secara nasional. (Banathy, 1991; Reigeluth & Garfinkle, 1992)

Berdasarkan hakikat perubahan sebagai pemberdayaan warga sekolah, maka sudah seharusnya perhatian utama diberikan parubahan pada lapis pertama yaitu pengalaman belajar, dengan konsekuensi dan implikasi pada perubahan pada lapis kedua sampai lapis keempat. Pendekatan mulai lapis pertama, disebut pula sebagai pendekatan dari bawah keatas (bottom – up approach). Dengan pendekatan dari bawah keatas maka perhatian utama diberikan kepada peserta didik/warga belajar agar mereka menguasai tugas belajar dan mampu mengatasi persoalan belajar. Semua satuan penyelenggara pendidikan, termasuk sekolah, pusat kegiatan belajar masyarakat, perguruan tinggi dan lain sebagainya, wajib mengelola sumber daya yang diperlukan dan mengatur penggunaanya.

Perubahan paradigma ini (dari etatisme ke pemberdayaan peserta didik/warga belajar) mempengaruhi semua aspek pendidikan lain, bahkan memicu tumbuhnya serangkaian paradigma lain. Perubahan paradigma ini memunculkan konsep-konsep baru, seperti belajar berbasis aneka sumber, manajemen berbasis sekolah (MBS).
Salah satu cara untuk pengembangan MBS adalah dengan menggunakan pendekatan sistem, yang memberikan gambaran menyeluruh terhadap semua komponen serta lingkungan yang mempengaruhi sistem sekolah yang bersangkutan ilustrasi menyeluruh tersebut meliputi komponen ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

Manajemen sistem ini meliputi semua komponen secara keseluruhan. Pembaharuan pendidikan banyak tergantung kepada kemampuan manegerial dan kepemimpinan Kepala Sekolah. Berdasarkan pengertian MBS yang telah dirumuskan, tujuan terpenting diselenggarakannya MBS adalah meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu dalam sekolah perlu dipahami dan diterapkan konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPBS) atau School Based Quality Improvement Management.
Karakteristik bermutu dinyatakan dengan diperhatikan dan diusahakan pengembangan indikator kualitas sekomperhemsif mungkin, meliputi : 1) Konteks pendidikan atau lingkungan dimana sekolah tersebut berlokasi; 2) Masukan yang terdiri atas rencana, sumber daya manusia, fasilitas/sarana dan manjemen; 3) Proses pengolahan organisasi, belajar pembelajaran dan penilaian; 4) hasil yang berupa pencapaian akademik, peningkatan keterampilan, serta perubahan sikap dan perilaku; 5) dampak yang meliputi keberhasilan studi lanjut, kesiapan karja, perolehan pendapatan dan meningkatnya citra sekolah sebagai komponen integral sistem pendidikan nasional.

Hal ini berarti pemberdayaan sekolah, yaitu secara mandiri berkewenangan untuk mengkoordinasikan dan menyerasikan sumber daya dengan melibatkan semua kelompok yang berkepentingan dengan proses peningkatan mutu pendidikan dalam kerangka sistem pendidikan nasional.

Sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: :
1) tingkat ketergantungan dari birokrasi rendah (tidak menantikan petunjuk dari atas); 2) bersifat adaptif dan proaktif dalam menghadapi peubahan dan tantangan; 3) memiliki semangat kewirausahaan (entrepeneurship) yang tinggi dengan secara gigih dan inovatif berani mengambil tindakan dan menanggung resiko untuk itu; 4) bertanggun jawab terhadap hasil sekolah; 5) memiliki kontrol yang kuat terhadap masukan manjemen dan sumber dayanya; 6) komitmen yang tinggi pada dirinya; dan 7) prestasi merupakan acuan bagi penilainya.

Termasuk dalam manjemen sistem ini adalah manajemen data dan informasi mengenai keadaan dan perkembangan sekolah sebagai suatu sistem dalam sistem pendidikan nasional. Data dan informasi ini perlu dikumpulkan, ditata, diolah, dan di manfaatkan untuk kepentingan perencanaan dan pengembangan sekolah lebih lanjut. Untuk keperluan itu sebaliknya dikembangkan suatu sistem informasi manjemen yang dikenal dengan EMIS (Educational Management Information System = Sistim Informasi Manajemen Pendidikan). Pada setiap sekolah seharusnya tersedia data dan informasi tentang kondisi awal dan status perkembangan sekolah, sehingga dengan demikian dapat diketahui perubahan atau peningkatan apa yang telah terjadi.

Hasil pendidikan adalah wujud kinerja sekolah. Kinerja sekolah merupakan prestasi yang dicapai dari semua proses dan perilaku dalam sekolah itu sendiri. Berbagai ukuran atau penilaian dapat dilakukan atas kinerja sekolah, efektivitasnya dan efisiensi programnya, temuan atau pembaharuan yang dikembangkannya, semangat kerjanya, dan perubahan yang terjadi pada dirinya.

Mutu lulusan yang dihasilkan tidak semata-mata diukur dari hasil tes kemampuan akademik seperti UJIAN SEKOLAH, UJIAN NASONAL dan SPMB, melainkan pula prestasi dibidang lain, misalnya dalam kegiatan ilmiah (lomba karya tulis, lomba karya penelitian), olahraga, kesenian, keagamaan, keterampilan dan kegiatan sosial.

Pada dasarnya mutu itu ditentukan atas dasar kepuasan para konsumen dan pemegang peran (stakeholder). Konsumen itu adalah para siswa yang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensinya, para orang tua yang memperoleh anak yang terdidik, lembaga pendidikan lanjut yang menerima lulusan, masyarakat yang memperoleh warga yang bertanggung jawab dan bangsa yang mendapatkan warga yang cedas dan berkarakter. Para pemegang peran adalah guru dan tenaga kependidikan lain, komite sekolah, yayasan pembina sekolah, masyarakat yang berpartisipasi dan pemerintah.

Yang dimaksudkan dengan dampak adalah hasil pendidikan jangka panjang, baik bagi individu yang bersangkutan maupun bagi masyarakat secara luas. Manajemen dampak ini memang bukan semata-mata tanggung jawab sekolah, namun sekolah mempunyai peran penting karena menghasilkan lulusan yang mampu mengembangkan dirinya dan berkarya. Indikator umum dampak ini adalah keberhasilan lulusan sekolah dalam kehidupannya dimasa depan. Secara khusus indikator ini termasuk keberhasilan dalam menempuh pendidikan lanjut (jenjang pendidikan tinggi), keberhasilan dalam memperoleh penghasilan, keberhasilan dalam karier, keberhasilan dalam berwirausaha dan keberhasilannya sebagai tokoh dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat termasuk dalam bidang keagamaan dan sosial.

Dalam usaha megetahui dampak pendidikan ini sangat penting sekali peranan alumni. Oleh karena itu pimpinan sekolah diharapkan dapat mendukung prakarsa untuk membentuk atau meningkatkan organisasi alumni. Bila mana sumber daya dan dana memungkinkan, akan lebih baik lagi bila dapat dilakukan studi penelusuran (tracers study) mengenai lulusan.
F. Konsep Rencana Strategis
Renstra adalah rencana jangka panjang (5-10 tahun ) yang akan dijadikan acuan dalam pengelolaan sekolah untuk mencapai mutu yang dikehendaki. Renstra merupakan framework dari keseluruhan rencana sekolah jangka panjang.

Sebagai acuan pokok dalam menyusun rencana strategis sekolah ini merujuk pada Inpres Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Keputusan Kepala LAN No. :239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Inmendiknas No : 1/U/2002 tentang Pelaksanaan Akuntabilitas di lingkungan Depdiknas. Dalam rujukan tersebut salah satunya adalah bagaimana suatu organisasi di lingkungan sistem pemerintahan diwajibkan menyusun rencana strategi jangka panjang ataupun jangka menengah dan laporan akuntabilitas kinerjanya.

Dari perencanaan tersebut dapat diturunkan ke dalam rencana tahunan yang disesuaikan dengan tuntutan dan prioritas kondisi yang terjadi di organisasi. Untuk memberikan gambaran pengertian strategi di bawah ini disajikan beberapa definisi menurut beberapa ahli :
1. Strategi merupakan respon secara terus menerus maupun adaftif terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal yang dapat mempengaruhi organisasi (Argyris : 1985, Mintzber : 1979, Steiner dan Miner : 1977).
2. Strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing (Porter : 1985).
3. Strategi adalah kekuatan motivasi untuk stakeholder, manajer, karyawan, konsumen, komunitas, pemerintah dan lain-lain, baik secara langsung maupun tidak langsung menerima keuntungan atau biaya yang ditimbulkan oleh semua tindakan yang dilakukan oleh perusahaan (Andrews : 1980, Chaffe : 1985).
4. Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus, dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan (Hamel dan Prahalad : 1995).
Dari definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, rencana strategi adalah :
 Merupakan tujuan jangka panjang untuk mencapai keunggulan bersaing (termasuk menengah dan pendek).
 Merupakan respon dan adaftif terhadap kondisi yang akan datang.
 Merupakan kegiatan terus-menerus yang senantiasa meningkat (selalu berangkat dari apa yang dapat terjadi dan bukan apa yang terjadi ).
 Yang selalu berorientasi pada pelanggan / kastemer (masyarakat).
 Merupakan kekuatan motivasi bagi penyelenggara dan masyarakat.
 Selalu bertitik tolak dari peluang dan ancaman, kekuatan dan kelemahan.

Oleh karena itu rencana strategi yang disusun akan mengacu pada beberapa rambu atau keenam kriteria yang telah dirumuskan tersebut di atas. Pola pikir kita dalam menyusun rencana strategi selalu bertanya apakah sudah memenuhi keenam kriteria tersebut.

Sebagai salah satu pendekatan yang ditempuh dalam menyusun renstra adalah melibatkan semua unsur yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi, karena mereka itulah yang akan melaksanakan atau mengimplementasikan rencana tersebut. Semua ide atau gagasan yang muncul dalam diskusi dapat dicerna dan diikuti oleh seluruh unsur penyelenggara.

Strategi tersebut perlu dilalui agar nantinya dalam implementasi tidak terjadi konflik antara anggota yang kurang sependapat, yang dapat menghambat tercapainya tujuan organisasi. Pada umumnya sekelompok anggota yang termasuk dalam penghambat biasanya mereka tidak mengerti latar belakang permasalahan yang sudah dibahas secara mendalam sewaktu menyusun renstra.

Oleh karena itu pendekatan yang diambil dalam proses penyusunan renstra ini sebaiknya melalui pendekatan “bottom up approach” dan “top down approach” sehingga semua pihak merasa terwadahi dan saling mengisi dalam mencapai visi dan misi organisasi.
1. Analisa SWOT sebagai Alat Formulasi Strategi
Untuk menyusun renstra bisa mengambil dari beberapa konsep yang diajukan oleh beberapa ahli seperti : SWOT dan matrik TOWS, BCG, Fishbone, Matrik Internal dan Eksternal, Matrik SPACE, Grand Strategy dan lain-lain. Namun untuk penyusunan renstra ini, perlu disepakati pendekatan yang diambil mulai dari studi peluang dan ancaman, kekuatan dan kelemahan. Konsep yang paling dekat dari pendekatan tersebut adalah analisa SWOT atau analisis lingkungan. Dengan perencanaan strategis yang jelas dan sinergis, sekolah akan dapat menyelaraskan visi dan misinya dengan potensi, peluang, ancaman maupun kelemahan yang dihadapi sekolah.

Dalam merumuskan strategi organisasi dengan pendekatan analisis SWOT pada dasarnya menggunakan logika kegiatan apa yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), dan secara bersamaan meminimalkan kelemahan (weaknesses ) dan ancaman (Threats).

Adapun yang dikembangkan melalui analisis ini selalu berkaitan dengan visi, misi, tujuan organisasi. Oleh karena itu dalam menyusun rencana strategi visi dan misi sekolah sudah tersusun (perumusan visi dan misi tidak dibahas disini). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rumusan visi antara lain perlunya setiap unsur dalam organisasi untuk menghayatinya, sehingga menjadi visi bersama (shared vision), dan pada gilirannya akan mampu mengarahkan dan menggerakkan segala sumber daya sekolah yang ada.

Misi suatu organisasi harus jelas dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi organisasi tersebut. Misi juga terkait dengan kewenangan yang dimiliki oleh organisasi tersebut, maupun peraturan perundangan yang berlaku. Rumusan misi yang baik harus mencakup :
a. Mencakup semua pesan yang terdapat dalam visi;
b. Memberikan petunjuk terhadap tujuan gaya akan dicapai;
c. Memberikan petunjuk kelompok sasaran yang akan dilayani oleh sekolah;
d. Memperhitungkan berbagai masukan dari stakeholders.

Secara teoritis diagram proses keputusan strategis seperti tergambar di bawah ini : (Freddy Rangkuti, 1999 : 18).

2. Konsep Dasar Analisa SWOT ( Strengths, Weakness, Opportunities, and Threats)
Dalam beberapa penelitian menunjukkan kinerja organisasi ditentukan oleh kombinasi faktor internal (S/W) dan faktor eksternal (O/T). kedua faktor tersebut perlu dipertimbangkan dalam melakukan analisa SWOT. Dengan cara membandingkan dan menganalisa antara faktor internal dan faktor eksternal, dapat ditetapkan atau diperkirakan satu kegiatan yang mampu mengoptimalkan S/O dan meminimalkan W/T.
Diagram menggambarkan strategi kombinasi, dengan saran sebagai berikut : (Freddy Rangkuti, 1999 : 19).

Dalam diagram tersebut di atas dapat diambil strategi yang perlu dipertimbangkan :
Kwadran 1 : Merupakan kombinasi yang sangat menguntungkan karena memiliki kekuatan dan peluang yang dapat dimanfaatkan. Strategi yang diterapkan dalam kombinasi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Growth oriented strategy )  program yang agresif.
Misalkan :
a. Optimalisasi peran Pemerintah Daerah dalam program peningkatan mutu pendidikan
b. Memberdayakan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam upaya peningkatan mutu pendidikan yang mampu bersaing di era global.
Kwadran 2 : Meskipun menghadapi ancaman, organisasi ini masih memiliki kekuatan internal. Strategi yang perlu diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversivikasi.
Misalkan :
a. Meningkatkan kegiatan program akademik bagi siswa dalam kegiatan ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler.
b. Memperbanyak kegiatan pratikum, karya ilmiah maupun lomba.

Kwadran 3 : Organisasi memiliki peluang yang besar, namun di sisi lain menghadapi kendala kelemahan internal. Kondisi organisasi seperti ini mirip dengan Question Mark pada BCG matrik. Strategi difokuskan pada meminimalkan masalah internal organisasi, untuk merebut peluang yang lebih baik.
Contoh :
a. Melakukan pemetaan kompetensi guru dan mengikuti diklat kompetensi sesuai bidang studi.
b. Melakukan restruktur program, rotasi staf dalam usaha penyegaran untuk mendorong produktivitas dan lain-lain.

Kwadran 4 : Kondisi ini merupakan situasi yang tidak menguntungkan, organisasi menghadapi ancaman dari luar dan kelemahan internal. Usahakan kondisi tersebut bertahan dan akan lebih disarankan bisa diminimalkan.
Contoh :
a. Memelihara dan meningkatkan iklim kerja organisasi.
b. Koordinasi dan sikronisasi pelaksanaan tugas dan lain-lain.

3. Penyusunan Rencana Strategis
a. Langkah pertama : Merumuskan tujuan organisasi / sekolah.
Dengan mengacu pada visi dan misi organisasi serta tugas pokok dan fungsi organisasi perlu dirumuskan tujuan dari organisasi / sekolah. Yang dimaksud dengan tujuan adalah sesuatu (apa) yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 sampai dengan 5 tahunan dalam kerangka mewujudkan misi serta visi organisasi. Tujuan ditetapkan dengan rujukan pernyataan visi dan misi serta didasarkan pada isu-isu dan analisis strategis yang telah dilakukan. Selanjutnya tujuan ini akan mengarahkan pada perumusan sasaran, kebijakan, program dan kegiatan dalam rangka merealisasikan misi organisasi / sekolah.
b. Langkah kedua : Merumuskan sasaran dan indikatornya
Sasaran adalah hasil yang akan dicapai secara nyata oleh sekolah, sehingga rumusan sasaran harus lebih spesifik, terukur dan lebih pendek kurun waktunya dibanding tujuan. Untuk memperjelas sasaran perlu dirancang indikator sasaran. Yang dimaksud dengan indikator sasaran adalah ukuran tingkat keberhasilan pencapaian sasaran pada tahun bersangkutan. Setiap indikator sasaran disertai dengan rencana tingkat capaiannya. Biasanya untuk lebih mudah merumuskan indikator sasaran dapat ditempuh dengan mengambil dari rumusan keluaran (outputs) dan atau hasil (outcomes). Setiap sasaran dapat memiliki lebih dari satu indikator.
Misalnya :
• Prosentase peningkatan kualitas lulusan
• Prosentase peningkatan lulusan yang diterima di PTN melalui SPMB
• Dan lain-lain.

c. Langkah ketiga : Menetapkan faktor internal dan eksternal
Langkah ini sangat penting, karena diperlukan kemampuan yang bisa melihat secara internal dan eksternal apa yang terjadi dan apa yang bisa kita optimalkan dalam mencapai visi dan misi organisasi. Dengan memperhatikan visi dan misi organisasi selanjutnya perlu menetapkan langkah atau kegiatan apa saja yang perlu dilakukan guna mencapai visi dan misi organisasi.

Sebagai langkah pertama mengidentifikasi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) biasanya disebut analisa lingkungan internal (ALI) maupun faktor eksternal (peluang dan tantangan) yang disebut analisa lingkungan eksternal (ALE), dengan mencari faktor yang paling dominan khususnya yang sangat berpengaruh atau berdampak besar terhadap pencapaian visi dan misi.

Dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan maupun peluang dan ancaman organisasi perlu memperhatikan pengertian-pengertian faktor internal dan eksternal, seperti :
a. Kekuatan adalah potensi yang dimiliki oleh organisasi pada saat sekarang maupun yang akan datang, yang dapat mendukung atau merupakan dorongan tercapainya misi atau tujuan organisasi.
b. Kelemahan adalah suatu potensi yang menjadi beban organisasi dalam mencapai misi organisasi, tetapi diperlukan dalam mencapai misi dan tujuan organisasi.
c. Peluang adalah suatu kondisi atau situasi yang merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan dalam mencapai misi atau tujuan organisasi.
d. Ancaman adalah suatu kondisi atau situasi yang dapat menjadi hambatan dalam mencapai misi atau tujuan organisasi.
d. Langkah keempat : Menetapkan Isu-isu Strategis
Selanjutnya dibutuhkan analisis strategis yang merupakan gabungan potensi internal dan eksternal, seperti peta tersebut di atas. Dalam menetapkan strategi potensial yang dapat mencapai tujuan, misi dan visi sangat diperlukan ketajaman analisis agar mampu menyusun strategi secara tepat. Untuk mencapai hasil optimal diperlukan wawasan yang luas dan inovatif agar mampu menetapkan strategi dengan ciri memiliki tahapan tantangan dan yang akan dicapai dalam beberapa tahun.

Untuk menghasilkan strategi yang maksimal, perlu menggunakan format yang dapat membantu dalam menetapkan format yang dapat membantu dalam menetapkan strategi potensial, seperti melalui format analisa strategi S/O, S/T, W/O dan W/T seperti lampiran 1.
1. Pendekatan nilai-nilai strategi
(Bottom up approach)  Pendekatan konvensional
Pendekatan ini berdasarkan naluri para peserta atau para stakeholder yang selama ini telah menangani pekerjaan tersebut, atau orang-orang yang memiliki idealisme bagaimana organisasi ini sebaiknya diarahkan. Kebanyakan orang tersebut memiliki pengalaman bagaimana cara mengatasi dan menyelesaikan masalah di lapangan, bahkan tidak jarang mereka memiliki konsep jangka panjang yang perlu diperhitungkan.

Pendekatan nilai-nilai strategis setiap peserta atau stakeholder yang akan mampu memberikan gambaran program jangka panjang dalam mencapai tujuan organisasinya. Kelebihan dari strategi ini adalah para pelaksana sendiri yang mendesain program dan mereka juga yang akan melaksanakan. Sehingga diperkirakan dalam operasionalnya tidak akan menghadapi kesulitan karena mereka adalah orang lapangan yang sekaligus mengerti secara tepat segala permasalahan yang akan dihadapi.

Pendekatan ini lebih banyak diambil oleh para organisasi konvensional yang lebih mengandalkan pada intuitif masing-masing pengelola. Sebenarnya pendekatan ini cukup potensial karena berakar pada para pelaksana yang menguasai secara tepat kondisi lapangan dengan segala permasalahannya. Pendekatan ini akan efektif bila dipoles dengan manajemen modern atau gabungan antara manajemen konvensional dan modern sehingga dapat membentuk satu organisasi yang boleh solid.

Potensi intuitif para stakeholder bila dikelola dengan tepat akan ampu menghasilkan rencana strategis yang tidak kalah dengan produk manajemen modern. Kombinasi antara intuitif dengan wawasan luas para stakeholder akan mampu memberikan yang terbaiknya. Dalam pelaksanaan nya masih sangat tergantung pada para penyelenggara organisasi, dalam hal ini adalah para pegawai yang setiap hari menghadapi seluruh permasalahan lapangan.

Dalam menyusun rencana strategis sekolah perlu diperhatikan Keputusan Kepala LAN Nomor : 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah serta Inmendiknas Nomor : 1/U/2002 tentang Pelaksanaan Akuntabilitas di lingkungan Depdiknas. Dalam menyusun rencana strategis diperlukan konsep pola pikir sebagai pedoman tahapan dalam melakukan analisa. Pola pikir tersebut sebagai konsep untuk disepakati dari beberapa alternatif konsep penyusunan rencana strategis. Diagram pola pikir penyusunan rencana strategis seperti diagram berikut :
Diagram pola pikir penyusunan rencana strategi

2. Menyusun “grand strategic”
Grand strategic ini merupakan program jangka panjang dalam mencapai visi dan misi sekolah yang kemungkinan merupakan program 5 – 25 tahun. Grand strategic ini dikembangkan menurut potensi sekolah baik pendukung maupun penghambat dalam bentuk beberapa bidang garapan yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi sekolah.
3. Mengidentifikasi strategi prioritas
Langkah identifikasi prioritas dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dan manajemen sekolah yang akan dicapai dalam jangka waktu 1 (satu) sampai 5 (lima) tahunan. Strategis prioritas tersebut merupakan bagian dari grand strategic sekolah yang ditetapkan sebagai langkah merumuskan strategi dalam mencapai tujuan, melalui rumusan kebijakan sekolah dan program-program strategis.
4. Merumuskan cara mencapai tujuan dan sasaran
Dalam merumuskan cara mencapai tujuan dan sasaran dengan jalan menjabarkan ke dalam kebijakan dan program-program sekolah yang bersangkutan. Kebijakan pada dasarnya merupakan ketentuan yang telah ditetapkan oleh yang berwenang untuk dijadikan pedoman, pegangan atau petunjuk dalam pengembangan ataupun pelaksanaan program / kegiatan guna tercapainya kelancaran dan keterpaduan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, serta misi dan visi sekolah. Di era otonomi daerah kemungkinan kebijakan tersebut datang dari Kantor dinas Pendidikan Kabupaten / Bupati / Walikota atau kebijakan pusat di bidang pendidikan.
Jabaran program adalah merupakan kumpulan kegiatan yang sistematis dan terpadu untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam mewujudkan tujuan dan sasaran rencana strategis tersebut.
5. Menyusun rencana strategis dalam format RS.
Untuk mempermudah dalam menyusun rencana strategis maupun keterbacaannya, hasil analisa tujuan, sasaran, kebijakan dan program perlu dituangkan ke dalam format RS (lihat lampiran II).

6. Struktur penulisan dokumen rencana strategis
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penyusunan Renstra
C. Ruang Lingkup
D. Strategi Penyusunan Renstra
BAB II VISI, MISI DAN KONDISI SMP
A. Visi dan Misi SMP
1. Visi
2. Misi
3. Nilai-nilai
B. Profil Sekolah
1. Peta SDM/Tenaga Kependidikan
2. Fasilitas Pendidikan
3. Data Siswa
4. Data Akademik Siswa
5. Data Non Akademik Siswa
BAB III RENCANA STRATEGIS SMP
A. Tujuan
B. Sasaran
C. Analisa Lingkungan
D. Isu Strategis
E. Kebijakan
F. Program
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran – saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1. Rencana Strategis dalam format RS
2. Jadwal Pentahapan Renstra
3. Deskripsi Pentahapan Ranstra
G. Konsep/Teori RAPBS
(Rencana Angaran Belanja dan Pendapatan Sekolah)
Tersusunnya RAPBS yang memuat perencanaan penerimaan dan pembiayaan operasional selama setahun, selalu berpedoman pada RENSTRA yang memuat program prioritas mencakup perencanaan (komponen-komponen) sekolah selama lima tahun.

RAPBS yang merupakan jabaran pendanaan operasional sekolah haruslah tidak melenceng dari program pengembangan sekolah jangka panjang (RENSTRA)

a. Penyusunan Anggaran biaya
Ada beberapa kata kunci yang perlu dipahami dalam rangka penyusunan anggaran yaitu :
1) Anggaran, merupakan rencana kerja yang dinyatakan dalam bentuk biaya, uraian kegiatan dalam kurun waktu tertentu.
2) Anggaran belanja, merupakan satuan uraian dari urutan rencana kerja yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam bentuk besaran biaya
3) Anggaran pendapatan, merupakan urutan rencana penerimaan dalam kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam jumlah uang yang diperkirakan dapat digunakan untuk membiayai segala pengeluaran yang direncanakan.
4) Anggaran pendapatan dan belanja sekolah, merupakan rencana jumlah pendapatan dan pembelanjaan yang dinyatakan dalam bentuk biaya atau uang untuk keperluan pelaksanaan kegiatan operasional sekolah dalam waktu tertentu.
5) Siklus anggaran, merupakan suatu proses kegiatan yang didahului dengan kegiatan penyusuna anggaran kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pelaksanaan anggaran dan pengawasan anggaran. Kegiatan tersebut berlangsung secara terus-menerus serta berkelanjutan sepanjang tahun.
b. Urutan kerja penyusunan RAPBS
1) Perumusan program kerja berdasarkan RENSTRA sekolah
2) Menghitung biaya setiap satuan program yang diprioritaskan taun yang akan berjalan
3) Melakukan identifikasi sumber-sumber pendapatan
4) Pengesahan rencana anggaran
c. Langkah-langkah Penyusunan RAPBS
1) Membentuk Tim Penyusun yang terdiri dar iWakasek dan Kasubag TU
2) Mendapatkan masukan dari guru, TU, karyawan dan OSIS
3) Melakukan pleno untuk draft pertama dengan seluruh guru-guru dan staf
4) Melakukan revisi draft pertama hasil perbaikan dari pleno
5) Mengadakan re-cek dengan perwakilan guru dan staf untuk hasil perbaikan
6) Mengajukan Draft kedua hasil perbaikan ke Komite Sekolah
7) Melakukan perbaikan draft RAPBS hasil dari sidang komite
8) Pengesahan RAPBS oleh Komite Sekolah dalam rapat pleno orang tua murid
9) Melakukan Sosialisasi RAPBS dengan warga sekolah

d. Kelengkapan-kelengkapan penyusunan RAPBS
1) Rencana Strategis Sekolah (RENSTRA Sekolah)
2) Data pendukung tiap komponen yang akan dibiayai
3) Data sumber pendapatan/peneriman sekolah
4) Data pendukung sesuai kebutuhan misalnya; photo kerusakan gedung, spesifikasi alat yang dibutuhkan, index harga barang dsb.
H. KONSEP LAPORAN AKUNTABILITAS
Pengertian akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang / badan hukum / pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggung jawaban.

Sebelum menyusun laporan akuntabilitas sekolah, terlebih dahulu disusun rencana kinerja tahunan sekolah berdasarkan pentahapan yang telah ditetapkan. Dalam pedoman menyusun pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang tertuang dalam surat keputusan LAN Nomor : 239/IX/6/8/2003, dijelaskan komponen rencana kinerja memuat informasi tentang : sasaran yang ingin dicapai, indikator kinerja sasaran, dan rencana capaiannya; program, kegiatan, serta kelompok indikator kinerja dan rencana capaiannya.

Dalam menyusun rencana kerja tahunan sekolah dipergunakan format RKT (lihat lampiran I). dimana rencana kinerja tahunan sekolah merupakan action plan yang disusun merujuk pada rencana strategi sekolah, dan dapat berupa buku II Rencana Strategi (RS) sedang buku I merupakan Induk Rencana Strategi. Cara pengisian format RKT tinggal memindahkan dari format RS sesuai dengan kolom yang tersedia.
I. Pengukuran Kinerja
Yang dimaksud dengan kinerja adalah gambaran tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan, program dan kebijakan sekolah dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi sekolah.

Pengukuran kinerja adalah proses sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan elak kegiatan sesuai dengan program, kebijakan, sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi, misi dan strategi sekolah.

Dalam pengukuran kinerja yang dimaksud, merupakan hasil dari suatu penilaian yang sistematik dan didasarkan pada indikator kinerja kata berupa indikator-indikator :
1. Masukan (inputs) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar kegiatan dan program dapat berjalan atau dalam rangka menghasilkan keluaran (output).
2. Keluaran (outputs) adalah segala sesuatu berupa produk / jasa (fisik dan atau non fisik) sebagai hasil langsung dari pelaksanaan suatu kegiatan dan program berdasarkan masukan yang digunakan.
3. Hasil (outcomes) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah. Outcomes merupakan ukuran seberapa jauh setiap produk / jasa dapat memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat.
4. Manfaat (benefit) adalah kegunaan suatu keluaran (outputs) yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Dapat berupa tersedianya fasilitas yang dapat diakses oleh publik.
5. Dampak (impacts) adalah ukuran tingkat pengaruh sosial, ekonomi, lingkungan atau kepentingan umum lainnya yang dimulai oleh capaian kinerja setiap indikator dalam suatu kegiatan.

Indikator-indikator tersebut secara langsung atau tidak langsung dapat mengidentifikasikan sejauh mana keberhasilan pencapaian sasaran. Dalam hubungan ini, penetapan indikator kinerja kegiatan merupakan proses identifikasi, pengembangan, seleksi dan konsultasi tentang indikator kinerja atau ukuran kinerja atau ukuran keberhasilan kegiatan dalam program-program sekolah.

Penetapan indikator kinerja kegiatan harus berdasarkan perkiraan yang realistis dengan memperhatikan tujuan dan sasaran yang ditetapkan serta data pendukung yang ada di sekolah. Indikator kinerja yang dimaksud harus : (1) spesifik dan jelas, (2) dapat diukur secara obyektif, (3) relevan dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, dan (4) tidak bias.

Penetapan indikator kinerja dituangkan pada Rencana Kinerja Tahunan menggunakan format RKT (lihat lampiran I).
II. Kerangka Pengukuran Kinerja
Tahapan pengukuran kinerja meliputi: tahapan penetapan, pengumpulan data kinerja, dan cara pengukuran kinerja. Pengukuran kinerja dilakukan dengan menggunakan indikator kinerja kegiatan dengan menggunakan data kinerja yang ada, biasanya : (1) data internasional, dan (2) data eksternal, berasal dari luar sekolah baik data primer maupun data sekunder.

Pengumpulan data kinerja diarahkan untuk mendapatkan data kinerja yang akurat, lengkap, tepat waktu, dan konsisten yang berguna bagi pengambil keputusan dalam rangak perbaikan kinerja sekolah tanpa meninggalkan prinsip keseimbangan biaya dan manfaat, efisiensi dan efektifitas.

Pengumpulan data kinerja kegiatan untuk indikator masukan, keluaran, dan hasil dilakukan secara terencana dan sistematis setiap tahun untuk mengukur kehematan, efektifitas, efesiensi dan kualitas pencapaian sasaran. Sedangkan untuk indikator manfaat dan dampak dapat diukur pada akhir periode selesainya suatu program atau dalam rangak mengukur pencapaian tujuan sekolah. Khusus untuk indikator dampak dapat melakukan survei tersendiri guna mendapatkan data mengenai kepuasan masyarakat dan manfaat dampak kebijakan sekolah terhadap masyarakat.
Pengukuran kinerja mencakup : (1) kinerja kegiatan yang merupakan tingkat pencapaian target dari masing-masing kelompok indikator kinerja kegiatan, dan (2) tingkat pencapaian sasaran sekolah yang merupakan tingkat pencapaian target dari masing-masing indikator sasaran sekolah seperti gaya dituangkan dalam dokumen Rencana Strategis Sekolah. Pengukuran kinerja kegiatan menggunakan format Pengukuran Kinerja Kegiatan (PKK), dan pengukuran kinerja sasaran menggunakan format Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS), lihat lampiran II dan III.
III. Penulisan Rencana Kerja dalam Format RKT
Pengisian format mengikuti uraian yang telah tertuang dalam format RS dengan memindahkan pada kolom yang sesuai. Dalam menetapkan rencana tingkat capaian (target) sasaran harus realistik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sekolah.

Misalnya :
1. Peningkatan rata-rata nilai UAN setiap tahun 0,25 (atau nilai rata-rata UAN minimal 5,50).
2. Peningkatan jumlah lulusan gaya diterima SPMB sebesar 5% atau 5 lulusan (atau jumlah lulusan yang diterima SPMB minimal 25 lulusan).

Pengisian jenis kegiatan pada tahun bersangkutan disesuaikan dengan program gaya telah ditetapkan, misalnya :
a. Penambahan jam belajar sebesar 2 jam per Minggu untuk mata pelajaran UN.
b. Peningkatan kegiatan karya tulis siswa dalam bidang sains.
c. Pengiriman guru bidang studi untuk mengikuti diklat kompetensi.
d. Pemetaan kompetensi tenaga kependidikan.
e. Dan lain-lain.

Untuk mengisi uraian indikator kinerja kegiatan berdasarkan kelompok masukan, keluaran, hasil manfaat, dan dampak.
Misalnya : Pada peningkatan rata-rata nilai UN
Masukan : Jumlah siswa kelas 3
Keluaran : Jumlah siswa yang lulus
Hasil : Nilai rata-rata UN
Manfaat : Kesiapan lulusan menghadapi SPMB
Dampak : Peningkatan pengakuan masyarakat terhadap sekolah

Untuk mengisi rencana tingkat capaian (target) dari masing-masing indikator kinerja kegiatan disesuaikan dengan tingkat ketercapaian masing-masing indikator kinerja kegiatan dan jangan melakukan manipulasi. Kegagalan adalah sesuatu yang perlu dicari akar permasalahannya dan bukan hasil laporan yang baik akan tetapi sarat dengan permasalahan yang setiap tahun terakumulasi, dan akhirnya sulit untuk pemecahannya.

Pengisian format PPS dalam rangka pengukuran pencapaian sasaran, pengisian hanya memindahkan sasaran, indikator sasaran, rencana tingkat capaian (target) dari dokumen RS dan RKT. Untuk pengisian kolom realisasi dengan memindahkan hasil pengukuran kinerja yang telah dilakukan dari dokumen PKK.

Rumus umum dalam menghitung presentase ketercapaian adalah :

Rumusan ini dipakai apabila :
a. Realisasi secara kuantitatif semakin tinggi menunjukkan kinerja yang semakin baik.
b. Realisasi secara kuantitatif semakin rendah menunjukkan kinerja yang kurang baik.
2. Persentase pencapaian rencana tingkat capaian :

Rumusan ini dipakai apabila :
a. Realisasi secara kuantitatif semakin tinggi menunjukkan kinerja yang kurang baik.
b. Realisasi secara kuantitaif semakin rendah menunjukkan kinerja yang baik.
IV. Evaluasi Kinerja
Evaluasi dilakukan terhadap pencapaian setiap indikator kinerja kegiatan untuk melihat keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan suatu kegiatan. Evaluasi bertujuan agar diketahui pencapaian realisasi, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pencapaian misi, agar dapat dinilai dan dipelajari guna perbaikan pelaksanaan program / kegiatan di masa mendatang.

Evaluasi juga dilakukan dengan cara membandingkan antara output dan input baik rencana maupun realisasinya untuk melihat tingkat efisiensinya. Selanjutnya analisis tingkat efektifitas yang menggambarkan tingkat kesesuaian antara tujuan dengan hasil, manfaat atau dampak. Juga perlu dilakukan evaluasi terhadap setiap perbedaan kinerja yang terjadi (performance gap), baik terhadap penyebab terjadinya gap maupun strategi pemecahan masalah yang telah dan akan dilaksanakan.

Dalam menguraikan evaluasi kinerja, perlu menggunakan pembandingan antara :
1. Kinerja nyata dengan kinerja yang direncanakan;
2. Kinerja nyata dengan kinerja tahun-tahun sebelumnya;
3. Kinerja sekolah dengan kinerja sekolah lain yang unggul atau kinerja sektor swasta lainnya;
4. Kinerja nyata dengan kinerja sekolah di negara lain, baik tingkat ASEAN maupun Internasional.

V. Struktur penulisan laporan
Penyusunan laporan harus disusun secara jujur, obyektif dan transparan. Disamping itu harus pula diperhatikan prinsip-prinsip : Pertanggung jawaban yang bersangkutan dengan keberhasilan dan kegagalan, perbedaan realisasi dan target, serta bermanfaat.
IKHTISAR EKSEKUTIF
A. PENDAHULUAN
B. RENCANA STRATEGIS
1. Rencana Strategis
2. Rencana Kerja (Tahun yang bersangkutan)
C. AKUNTABILITAS KINERJA
D. PENUTUP
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1.1 ANALISIS STRATEGI S – O (AGRESIVE)

Visi : …………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
Misi : …………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
Strength/ Kekuatan :
S – 1 : …………………………………………..
……………………………………………………..
S – 2 : …………………………………………..
……………………………………………………..
Dst. Opportunity/ Peluang :
O – 1 : …………………………………………..
……………………………………………………..
O – 2 : …………………………………………..
……………………………………………………..
Dst.

Strategi SO :

S1 – O1 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

S1 – O2 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

S2 – O1 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

S2 – O2 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

Lampiran 1.2 ANALISIS STRATEGI S – T (DIVERSIFIKASI)

Visi : …………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
Misi : …………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
Strength/ Kekuatan :
S – 1 : …………………………………………..
……………………………………………………..
S – 2 : …………………………………………..
……………………………………………………..
Dst. Threat/ Ancaman :
T – 1 : …………………………………………..
……………………………………………………..
T – 2 : …………………………………………..
……………………………………………………..
Dst.

Strategi ST :

S1 – T1 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

S1 – T2 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

S2 – T1 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

S2 – T2 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

Lampiran 1.3 ANALISIS STRATEGI W – O (TURN AROUND)

Visi : …………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
Misi : …………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
Weakness/ Kelemahan :
W – 1 : …………………………………………..
……………………………………………………..
w – 2 : …………………………………………..
……………………………………………………..
Dst. Opportunity/ Peluang :
O – 1 : …………………………………………..
……………………………………………………..
O – 2 : …………………………………………..
……………………………………………………..
Dst.

Strategi SO :

W1 – O1 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

W1 – O2 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

W2 – O1 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

W2 – O2 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

Lampiran 1. 4 ANALISIS STRATEGI W – T (DIVERSIFIKASI)

Visi : …………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
Misi : …………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..
Weakness/ Kelemahan :
W – 1 : …………………………………………..
……………………………………………………..
W – 2 : …………………………………………..
……………………………………………………..
Dst. Threat/ Ancaman :
T – 1 : …………………………………………..
……………………………………………………..
T – 2 : …………………………………………..
……………………………………………………..
Dst.

Strategi ST :

W1 – T1 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

W1 – T2 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

W2 – T1 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

W2 – T2 :
………………………………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………………………………..

Lampiran 1. 5 GRAND STRATEGIC SEKOLAH
DALAM UPAYA PENINGKATAN MUTU MANAJEMEN DAN MUTU
PENDIDIKAN

NO. GRAND STRATEGIC

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………..

Formant 1.8
RENCANA STRATEGIS SMPN ………………
Tahun : …………………… s/d ……………………..

Instansi : …………………………………….
Visi : …………………………………….
Misi : …………………………………….
Tujuan Sasaran Cara Mencapai tujuan dan sasaran Keterangan
Uraian Indikator Kebijakan Program
1 2 3 4 5 6

Format 1.7
JADWAL PENTAHAPAN PROGRAM
RENCANA STRATEGIS
TAHUN ………..s/d ………….

Instansi : ………………………………..

NO TUJUAN SASARAN KEBIJAKAN PROGRAM PEMBABAKAN Pen. Jab
04 05 06 07 08

Lampiran 1.8
CONTOH FORMAT
PROFILE SEKOLAH

Data Berikut ini diisi dan dibawa ketika anda akan mengikuti pelatihan manajemen Kepala Sekolah. Format ini dibut rangkap 2 (dua) satu rangkap diserahkan kepanitia dan lainnya akan digunakan dalam kegiatan ini

1. Nama Sekolah :
Kabupaten/Kota :
Propinsi :

2. Kepala sekolah :
a. Nama Lengkap :
b. Pendidikan Terakhir : D3/S1/S2/S3
c. Jurusan :
d. Pelatihan yang diikuti :
Tahun Nama Pelatihan Lama Pelatihan (hari)

3. PSB (3 Tahun Terakhir)

Tahun Pelajaran Jumlah NEM
Pendaftar Yang diterima Rata-rata Tertinggi Terendah

4. Tamatan (3 tahun Terakhir)
Tahun Pelajaran Tamatan % Rata-rata NEM Siswa Yang melanjutkan ke PTN
Jumlah Target Hasil Target Jumlah Target

5. .Prestasi yang pernah dicapai oleh sekolah 3 tahun terakhir
AKADEMIK
Tahun Pelajaran Uraian Juara

NON AKADEMIK
Tahun Pelajaran Uraian Juara

6. Angka Mengulang Siswa ( 3 tahun terakhir )
Tahun Pelajaran Kelas I (orang) Kelas II (orang) Kelas III (Orang)

7. Jumlah Siswa ( 3 Tahun Terakhir)
Tahun Pelajaran Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah

8. Kondisi Guru
Ijazah Tertinggi Jumlah Jumlah
GT GTT
S3/S2
S1
D3
Jumlah

9. Sarana dan Prasarana
Ruang Jumlah Luas Buku Jumlah
Teori/Kelas Judul Buku
Laboratorium Jumlah Buku
Perpustakaan
Keterampilan
Lain-lain

10. Kondisi Orang Tua
Pekerjaan Jumlah ( % ) Penghasilan /bulan Jumlah ( % ) Tingkat Pendidikan Jumlah
PNS 1.000.000
Nelayan
Lain-lain

11. Anggaran Sekolah (Sesuai RAPBS) 3 tahun terakhir
Tahun Pelajaran Pemerintah Orang Tua Masyarakat Jumlah

12. Potensi lingkungan sekolah yng mendukung program :
…………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………..
Kepala SMP ………………..

…………………………………..
NIP …………………………….

Data lain dapat ditambahkan, jika dianggap penting

No KEGIATAN POKOK
RINCIAN KEGIATAN SATUAN VOLUME SATUAN BIAYA PER KEGIATAN JUMLAH BIAYA PERKEGIATAN KETERANGAN

1
Pemeliharaan, Rehabilitasi dan pengadaan Sarana/Prasarana Pendidikan
1.1 Pemeliharaan
a. Pengecatan Ruangan
– Ruang Belajar
– Ruang Bengkel
– Ruang Kasek
– Ruang guru
– Ruang lainnya
b. Pemeliharaan pagar halaman bangunan
– Peninggian pagar
– Pemeliharaan halaman
– Tempat pembunagan sampah

1.2 Rehabilitasi
a. Perbaikan Ruang Belajar
– Rehabilitasi ruang belajar 6×6
– Perbaikan kunci
– Perbaikan atap
– Perbaikan talang& lesplang
– Perbaikan kaca
– Perbaikan lampu penerangan dan instalasi

M2
M2
M2
M2
M2

M2
Bulan
Bulan

M2

Buah
M2
M2

M2
Titik
No
KEGIATAN POKOK RINCIAN KEGIATAN SATUAN VOLUME SATUAN BIAYA PER KEGIATAN JUMLAH BIAYA PERKEGIATAN KETERANGAN

b. Perbaikan Ruang Bengkel
– Penyekatan Bengkel
c. Perbaikan perabot/Meubelair
– Perbaikan meja kursi siswa
– Perbaikan almari, rak
– Perbaikan papan data
d. Perbaikan mesin-mesin kantor
– Perbaikan Mesin tik (3 buah x 12 bulan)
– Perbaikan mesin tensil
– Perbaikan Komputer
– Perbaikan mesin potong rumput
– Perbaikan pompa air
e. Pengadaan sarana pendidikan
– Adm. Guru. Stapel. Buku KBM, dll
– Pengadaan mesin tensil
– Pengadaan mesin printer
f. Pengadaan sarana penddikan
– Pemeluran teras
– Pemeluran lapang OR
– Renovasi mushola uk. 6×2 m
– Alat pemadam kebakaran

M2

Buah
Buah
Buah

Buah

Buah

Buah
Buah
Buah

Buah

Set

Unit
Unit

M2
M2

Tabung
No
KEGIATAN POKOK RINCIAN KEGIATAN SATUAN VOLUME SATUAN BIAYA PER KEGIATAN JUMLAH BIAYA PERKEGIATAN KETERANGAN

II
Peningkatan Kegiatan Belajar (PBM/KBM)
1. Penyelenggaraan Kegiatan Belajar Mengajar:
– Kebutuhan bahan dan alat praktek siswa
– Kebutuhan ATK
2. Penyelenggaraan Tes Sumatif (Ulum)
3. Penyelenggaraan UAS (Teori dan Praktek)
4. Penyelenggaraan Pra UAN
5. Penyelenggaraan UAN
6. Penyelenggaraan Uji Kompetensi (kelas III)
7. Penyelenggaraan PSG (Kelas II)

Siswa

Ls
Siswa

Siswa

Siswa
Siswa
Siswa

Siswa

III
Peningkatan Kegiatan Pembinaan Kesiswaan
1. Kegiatan OSIS:
– Biaya pelantikan
– Penataran pengurus
– POR kelas
– Kegiatan rapat (3 kelas)
2. Kegiatan Palang Merah Remaja
– Obat-obatan
– Velbet
– Peralatan kemping
3. Lomba Keterampilan Siswa
– Kebutuhan bahan Adm.

Siswa
Orang
Kegiatan
Kegiatan

Bulan
Bulan
Unit

Siswa
No KEGIATAN POKOK RINCIAN KEGIATAN
SATUAN VOLUME SATUAN BIAYA PER KEGIATAN JUMLAH BIAYA PERKEGIATAN KETERANGAN

4. Kegiatan Pramuka
– Kegiatan kemping (2 kali)
– Administrasi pramuka
5. Kegiatan PKS
6. Kegiatan Paskibra
7. Kegiatan UKS
8. Peringatan Hari Besar Nasional/Keagamaan
– Hardiknas
– HUT kemerdekaan RI
– Peringatan Hari Besar Keagamaan
– Peringatan Hari Besar lainnya
9. Kegiatan Hari Pertama Masuk Sekolah (MOS)
10. Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa
a. Biaya Latihan Dasar
b. Biaya Tingkat Kodya
11. Lomba Pengetahuan Ilmiah dan Cepat Tepat
– Lomba Pengetahuan Ilmiah
– Lomba Cepat Tepat
12. Wawasan Wiyata Mandala :
– Penyelenggaraan Jumsih
– Lomba Kebersihan Antar Kls
13. Penyelenggaraan Porseni
14. Open House/Pameran

Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan

Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan

Kegiatan

Siswa

Siswa
Siswa

Siswa

Siswa

Kegiatan
Kegiatan

Siswa
Kegiatan
No
KEGIATAN POKOK RINCIAN KEGIATAN SATUAN VOLUME SATUAN BIAYA PER KEGIATAN JUMLAH BIAYA PERKEGIATAN KETERANGAN

IV
Dukungan Biaya kegiatan personil dan peningkatan Keterampilan
1. Peningkatan kualitas dan keterampilan Personil :
– Penatara n KaSek
– Penataran Guru
– Penataran Pegawai
– Magang Guru ke Industri
– Bursa Kerja Khusus
2. Biaya Perjalanan Dinas Persnl.
– Kepala Sekolah
– Wakasek (5 Orang @Rp150.000)
– Kasubag Tata Usaha (1 Orang @ Rp. 150.000)
– Guru dan Staf Pimpinan (5 Orang @Rp. 100.000)
– Caraka (10 Orang @Rp.75.000)
3. Transport Dukungan Personil
– Kepala Sekolah
– Wakasek (5orang @Rp250.000)
– Staf Kurikulum (6 Orang@Rp. 50.000)
– Staf Kesiswaan (10 Orang @ Rp. 50.000)
– Staf Sarana/Prasana (6 Orang @ Rp. 50.000)
– Staf Kubin (6Orang @Rp50.000)
– Staf Unit Produksi (8 Orang @ Rp. 50.000)

Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan

Bulan
Bulan

Bulan

Bulan

Bulan

Bulan
Bulan

Bulan

Bulan

Bulan

Bulan

Bulan

No
KEGIATAN POKOK RINCIAN KEGIATAN SATUAN VOLUME SATUAN BIAYA PER KEGIATAN JUMLAH BIAYA PERKEGIATAN KETERANGAN

- Team Penilai Angka Kredit (1 Orang)
– Kepala Instansi/Jurusan(1orang)
– Kepala Bengkel (1 orang)
– Wali Kelas (24Orang @ Rp. 50.000)
– Petugas BP/BK/BKK (3 orang @ Rp. 50.000)
– Pembina OSIS 92 Orang @ Rp.50.000
– Kelebihan Jam Mengajar Guru (1200 Jam @ Rp. 25. 000)
– Kasubag TU (1 Orang)
– Pegawai Tetap TU (7 Orang @ Rp. 100.000)
– Pegawai Tidak Tetap TU (10 Orang @ Rp. 250.000)
– Seksi Perpustakaan (2 Orang @ Rp.50.000)
4. Honorarium Guru Tidak Tetap (2 Orang @ Rp. 50.000)

JUMLAH IV …………………………….

Bulan

Bulan

Bulan
Bulan

Bulan

Bulan

Bulan

Bulan
Bulan

Bulan

Bulan

Bulan

No
KEGIATAN POKOK RINCIAN KEGIATAN SATUAN VOLUME SATUAN BIAYA PER KEGIATAN JUMLAH BIAYA PERKEGIATAN KETERANGAN

V
Kegiatan Rumah Tangga Sekolah dan BP3
1. Kebutuhan Biaya Rumah
Tangga:
– Administrasi Sekolah (ATK)
– Administrasi Dewan Sekolah
– Biaya Pelaporan
2. Bantuan langganan daya
dan Jasa
– Langganan Listrik
– Langganan Telepon
3. Biaya Rapat Dinas :
– Rapat Dinas Guru dan Pegawai
– Rapat Pengurus Dewan Sekolah
– Rapat Orang Tua Siswa

4. Biaya Pembinaan:
– Biaya kegiatan K3S
– Biaya Kegiatan MKS (790
Siswa @ Rp. 1.100)

JUMLAH …………………..

Setoran DSP ke BLPT

Bulan

Bulan

Bulan

Bulan
Bulan

Kegiatan

Kegiatan

Kegiatan

Bulan
Bulan

Siswa

VI
Lain-Lain

No

KEGIATAN POKOK RINCIAN KEGIATAN SATUAN VOLUME BIAYA PER SATUAN JUMLAH BIAYA KETERANGAN

…………., ………………………………..
KOMITE KEPALA SMP

(…………………………..) (………………………………..)

Lampiran 2.3 Rekapitulasi Penerimaan dan Pengeluaran
Rencana Anggaran dan Belanja Sekolah (RAPBS)
SMP Negeri ………………………………..
Tahun Ajaran ……………/ …………..

No Pendapatan Jumlah No Pengeluaran Jumlah

1

2

3

Memorandum Anggaran
1.1. Gaji Pokok
1.2. Tunjangan Beras
1.3. Kesejahteraan Pegawai
1.4. Belanja Barang
1.5 Belanja Pemeliharaan
Sumbangan Orang Tua Murid
2.1. Iuran Bulanan
2.2. Sumbangan Awal Tahun Siswa
2.3 Kelas I baru
Lain-lain
1

2

3
4

5

6
Memorandum Anggaran
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5
Kegiatan Proses Belajar Mengajar
Kegiatan Pembinaan Kesiswaan
Pemeliharaan, Rehabilitasi dan Pengadaan Sarana/Prasaran
Kegiatan Pengembangan Tenaga Kependidikan
Kegiatan Kerumah Tanggaan

Mengetahui, …………………………………….
Kepala Dinas Dikdas Komite SMP Kepala SMP ………………….
Stempel ttd Stempel ttd Stempel ttd

(………………………….) (……………………..) (…………………………)
Lampiran 2.4 Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS)
Tahun Pelajaran ………/……………
Nama Sekolah : SMP …………………..
Alamat : …………………………..
No Kegiatan Biaya Yang dibutuhkan Sumber Dana KET
Memorandum Anggaran Rutin /DIK Sumbangan Orang Tua Block Grant Bantuan Pemda Mutasi Siswa Bea-
siwa Lain-lain
DPS/SAT Kelas I Bulanan

1

2
3

4
5
Kegiatan Proses Belajar Mengajar
Kegiatan Kesiswaan
Pemeliharaan,Rehabilitasi & pengadaan Sarana/Prasarana
Kegiatan Pengembangan Tenaga Kependidikan
Kegiatan Rumah Tangga dan Komite Sekolah
Jumlah

Mengetahui, …….., ……………………………
Kepala Dinas Dikdas Komite SMP Kepala SMP………………….

Stempel ttd Stempel ttd Stempel ttd

(……………………………) (…………………………) (………………………………….)

Lampiran 3.1 Formulir RKT
RENCANA KERJA TAHUNAN
TAHUN : ………………….

Instansi : ……………..
Sasaran Program Kegiatan Keterangan
Uraian Indikator Rencana tingkat capaian Uraian Indikator Kinerja Satuan Rencana tingkat capaian
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Lampiran 3.2 FORMAT RENCANA AKSI (ACTION PLAN) Formulir PPS
TOPIK :
NAMA :
SEKOLAH :
No. Tujuan Target Uraian Kegiatan Indikator
Keberhasilan Sumber daya Jadwal Penanggung
Jawab
1 2 3 4 5 6 7 8

Cara pengisian :
Kolom 1. : Diisi nomor urut
Kolom 2. : Diisi tujuan melakukan kegiatan.
Tujuan harus dirumuskan dan ditulis secara jelas.
Tujuan harus dapat diukur
Kolom 3. : Diisi target yang diharapkan oleh sekolah.
Penetapan target memperhatikan peluang dan ancaman yang mungkin dihadapi oleh sekolah.
Target yang diharapkan harus menjadi kesepakatan bersama semua unsur sekolah.
Kolom 4. : Diisi kegiatan dan uraian kegiatan.
Kegiatan yang hendak dilakukan ditulis secara jelas. Uraian kegiatan merupakan penjelasan secara detail setiap kegiatan yang hendak dicapai.Uraian kegiatan menggambarkan keberhasilan dari suatu kegiatan.
Kolom 5. : Rumusan indikator keberhasilan harus menggunakan kata kerja operasional dan dapat diukur tingkat keberhasilannya.
Kolom 6. : Diisi sumber daya
Sumber daya yang dimaksud adalah sumber daya manusia, sarana, prasarana, bahan, dana atau sumber daya lain yang dibutuhkan agar kegiatan tersebut dapat dilaksanakan.
Kolom 7. : Diisi jadwal kegiatan
Jadwal menunjukkan kapan kegiatan tersebut dimulai dan diakhiri.
Kolom 8. : Penanggung jawab utama atau pendukung (boleh lebih dari satu)
Lampiran 3.3
PENGUKURAN PENCAPAIAN SASARAN
TAHUN :. ………………………..

Instansi : …………………….
Sasaran Indikator Sasaran Rencana tingkat
Capaian / target Realisasi Presentase
Pencapaian
Rencana tingkat
Capaian Keterangan
1 2 3 4 5 6

About these ads
  1. encim
    31 Mei 2010 pukul 01:27

    trims sebagai perbandingan

  2. syahroni ejin
    10 Juli 2010 pukul 06:33

    mantap…

  3. Priyatno Santoso
    22 September 2010 pukul 10:29

    blog Anda cukup menambah wasawsn kami. trims

  4. sd inpres bertingkat mamajang 1 makassar
    20 September 2011 pukul 15:19

    sukses selalu

  5. Ridya Pambudi
    18 Oktober 2011 pukul 23:26

    Terima kasih atas info sarprasnya,tpi aku mohon kirimi contoh jadinya kalau diperkenankan

  6. ninokjos
    2 April 2012 pukul 11:02

    ini sangat bagus sekali karena bisa membantu,kepsek yang baru

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: