Beranda > Pendidikan > MODEL-MODEL PEMBELAJARAN ANAK USIA TK

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN ANAK USIA TK

EVTMGMTModel-model Pembelajaran Anak Usia TK

Oleh :  Muslihuddin, M.Pd

(Widyaiswara TK & RA LPMP JABAR)

A. Pengertian  Pembelajaran

Dalam proses pendidikan di sekolah secara keseluruhan, pembelajaran merupakan aktivitas paling utama. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.Lebih lengkap baca disini…

Pemahaman seorang guru terhadap pengertian pembelajaran akan mempengaruhi cara guru itu dalam mengajar. Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para pakar, secara umum pembelajaran didefinisikan sebagai suatu proses perubahan yaitu perubahan  dalam perilaku sebagai hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara lengkap Surya (2002:11) mendefinisikan pembelajaran sebagai berikut : ” Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut di atas ialah :

Pertama,   pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini mengandung makna bahwa ciri utama proses pembelajaran itu ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu. Artinya seseorang yang telah mengalami pembelajaran akan berubah perilakunya. Tetapi tidak semua perubahan perilaku itu adalah hasil pembelajaran. Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut ini : (a) Perubahan yang disadari. Artinya individu yang melakukan proses pembelajaran menyadari bahwa pengetahuannya telah bertambah, keterampilannya telah bertambah dan mungkin saja ia telah lebih yakin terhadap kemampuan dirinya; (b)  Perubahan yang bersifat kontinyu (berkesinambungan). Artinya suatu perubahan yang telah terjadi sebagai hasil pembelajaran akan menyebabkan terjadinya perubahan yang lain. Misalnya, seorang anak yang telah belajar membaca, ia akan berubah perilakunya dari tidak mampu membaca menjadi dapat membaca; (c) Perubahan yang bersifat fungsional. Artinya perubahan yang telah diperoleh sebagai hasil pembelajaran memberikan manfaat bagi individu yang bersangkutan; (d) Perubahan yang bersifat positif. Artinya terjadi adanya pertambahan perubahan dalam diri individu. Perubahan yang diperoleh senantiasa bertambah sehingga berbeda dengan keadaan sebelumnya; (e) Perubahan yang bersifat aktif. Artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya akan tetapi melalui aktivitas individu; (f) Perubahan yang bersifat permanen. Artinya perubahan yang terjadi sebagai hasil pembelajaran akan berada secara kekal dalam diri individu, setidak-tidaknya untuk masa tertentu; dan (g) Perubahan yang bertujuan dan terarah. Artinya perubahan itu terjadi karena ada sesuatu yang akan dicapai.

Kedua, hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan. Prinsip ini mengandung arti bahwa perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran adalah meliputi semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja. Perubahan perilaku itu meliputi aspek-aspek perilaku kognitif, afektif dan juga motorik.

Ketiga, pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ketiga ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan. Di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapan-tahapan aktivitas yang sistematis dan terarah. Jadi, pembelajaran bukan sebagai suatu benda atau keadaan yang statis, melainkan merupakan suatu rangkaian aktivitas-aktivitas yang dinamis dan saling berkaitan. Pembelajaran tidak dapat dilepaskan dengan interaksi individu dengan lingkungannya.

Keempat, proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada suatu tujuan yang akan dicapai. Prinsip ini mengandung arti bahwa aktivitas pembelajaran itu terjadi karena ada sesuatu yang mendorong dan sesuatu yang ingin dicapai. Hal yang mendorong adalah karena adanya kebutuhan yang harus dipuaskan, dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Atas dasar prinsip itu, maka pembelajaran akan terjadi apabila individu merasakan adanya kebutuhan yang mendorong dan ada sesuatu yang perlu dicapai untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Belajar tidak akan efektif tanpa adanya dorongan dan tujuan.

Kelima,  pembelajaran merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah kehidupan melalui situasi yang nyata dengan tujuan tertentu. Pembelajaran merupakan bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, sehingga banyak memberikan pengalaman dari situasi nyata. Perubahan perilaku yang diperoleh dari pembelajaran, pada dasarnya merupakan pengalaman. Hal ini berarti bahwa selama individu dalam proses pembelajaran hendaknya tercipta suatu situasi kehidupan yang menyenangkan sehingga memberikan pengalaman yang berarti.

  1. B. Pengertian tentang Model Pembelajaran

Sejak jaman dahulu, anak-anak – manusia dan binatang senantiasa bermain. Pada dinding-dinding kuil dan kuburan orang-orang Mesir kuno ditemukan relief-relief yang menggambarkan anak-anak sedang bermain. Menurut sebagian para ahli, bola yang terbuat dari kain atau kulit-kulit binatang merupakan salah satu alat bermain yang tertua. Demikian juga “gasing”, yang disebut oleh filosof Plato dalam bukunya Republic , dan dijadikan sebagai simbol kehidupan oleh salah seorang penyair Romawi. “Hidup kita ini, “ katanya, “bagaikan gasing. Ia ditarik dengan tali namun tetap berputar dan menari”.

Bagi anak, bermain adalah suatu kegiatan yang serius, namun mengasyikan. Melalui aktivitas bermain, berbagai pekerjaannya terwujud. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak, karena menyenangkan, bukan karena akan memperoleh hadiah atau pujian. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa anak adalah pembangun teori yang aktif (theory builder). Bermain adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya. Bermain adalah medium, di mana anak mencobakan diri, bukan saja dalam fantasinya tetapi juga benar nyata secara aktif. Bila anak bermain secara  bebas, sesuai kemauan maupun sesuai kecepatannya sendiri, maka ia melatih kemampuannya untuk belajar. (Agustin, 2005).

Para ahli memiliki keragaman pandangan tentang bentuk-bentuk pembelajaran anak usia dini. Pandangan dengan berbagai latar belakang filosofisnya tersebut banyak disebut dengan sitilah model pembelajaran. Apakah model ? Model secara sederhana adalah ”gambaran” yang dirancang untuk mewakili kenyataan. Model didefinisikan sebagai “a replica of the fhenomena it attempts to explain” (Runyon, dalam Rakhmat, 1988:59). Jadi dalam kegiatan pembelajaran model dapat dimaknai sebagai suatu pola atau gambaran yang menjelaskan tentang berbagai bentuk, pandangan yang terkait dengan kegiatan pembelajaran.

Adapun model-model pembelajaran anak usia dini dapat didefinisikan sebagai serangkaian pola, bentuk, kegiatan ataupun cara pandang kelompok tertentu terhadap kegiatan belajar anak usia dini.

  1. C. Model-model Pembelajaran Anak Usia dini

Terdapat berbagai model pembelajaran anak usia dini yang didukung oleh aliran-aliran, baik dalam kajian psikologi dan juga filsafat. Diantara pandangan tersebut adalah sebagai berikut ini :

  1. 1. Model Pembelajaran  Menurut Pandangan Behaviorisme

Menurut pandangan ini, belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang dapat diamati (observable) dan dapat diukur (meassurable). Behaviorisme menolak suatu referensi terhadap keadaan atau proses mental internal yang tidak dapat diamati dan diukur. Pendekatan terhadap belajar ini dicontohkan oleh kerja Thorndike & Skinner (Masitoh, dkk, 2003)  yang didasarkan atas suatu anggapan dari penelitian terhadap hewan dalam situasi belajar. Didasarkan pada eksperimen tersebut, kaum behavioris mengembangkan hipotesis bahwa proses belajar adalah penerapan hubungan stimulus-respon dengan control dari lingkungan dan control itu merupakan suatu hal yang potensial untuk penguatan.

Menurut teori ini setiap orang merespon terhadap berbagai variabel yang terdapat dalam lingkungan. Kekuatan-kekuatan eksternal merangsang individu untuk bertindak dengan cara-cara tertentu mungkin positif, dan mungkin negatif. Karena teori ini didasari oleh asumsi bahwa pada prinsipnya individu itu dapat dibentuk oleh lingkungan, maka perlakuan terhadap individu melalui tugas, ganjaran, dan disiplin adalah sangat penting untuk mengembangkan kemampuan anak. Guru harus mempunyai peranan yang sangat dominan dalam mengendalikan proses pembelajaran mulai dari penentuan tujuan yang harus dicapai, pemilihan materi, sumber, dan metode pembelajaran maupun dalam proses mengevaluasi

Coba perhatikan gambar berikut ini !

Gambar 1

Dalam pandangan behaviorisme anak akan berkembang berdasarkan prinsip ganjaran dan hukuman (reward & punishment).

  1. 2. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Kognitivisme

Pandangan kognitif tentang belajar antara lain diilhami oleh hasil kerja Jean Piaget dan sejawatnya. Menurut Cohen (Masitoh, dkk, 2003)), model belajar ini secara umum ditandai sebagai tahapan teori yang menganjurkan bahwa proses berfikir anak dikembangkan melalui empat tahap yang berbeda. Menurut pendekatan ini proses berpikir bergantung pada suatu kemampuan untuk mencipta, memperoleh dan mengubah gambaran internal tentang segala sesuatu yang dialami di lingkungan.

Pendekatan kognitif menekankan pada proses asimilasi dan akomodasi. Dalam hal ini anak menjadi problem solver dan pemroses informasi atau transformation processor. Aspek-aspek tersebut merupakan suatu rangkaian dalam proses belajar. Menurut pendekatan kognitif, belajar adalah sebagai perubahan perkembangan.

  1. 3. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Konstruksivisme

Menurut pandangan ini anak adalah pembangun aktif pengetahuannya sendiri. Menurut De Vries (Masitoh, dkk, 2003)) anak harus membangun pengetahuan ketika mereka bermain. Anak membangun kecerdasannya, kemampuan untuk nalar, moral dan kepribadiannya. Pendekatan ini sangat menekankan pentingnya keterlibatan anak dalam proses belajar. Proses belajar hendaknya menyenangkan bagi anak, alami, melalui bermain, dan memberi kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut David H. Janassen (Masitoh, dkk, 2003)), “Constructivism proposes that learning environments should support multiple perspectives or interpretations of reality, knowledge, construction, and context, experience based activities”. Artinya faham konstruktivisme menyatakan bahwa lingkungan belajar harus dapat mendukung berbagai perspektif atau interpretasi tentang kenyataan, pengetahuan, konstruksi dan konteks pengalaman yang didasarkan pada kegiatan.

Gambar 2

Menurut pandangan konstrukvistik anak akan dapat mengembangkan potensi mereka jika diberikan banyak kesempatan untuk mengembangkan diri

  1. 4. Model Pembelajaran Menurut Pendekatan High / Scope

Menurut pendekatan ini, anak memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuannya dan melibatkan interaksi yang bermakna antara anak dengan orang dewasa. Pengalaman sosial terjadi dalam konteks kehidupan nyata dimana anak memutuskan rencana dan inisiatifnya sendiri. Keterlibatan anak dalam proses belajar sangat penting sehingga mereka memperoleh kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan lingkungannya, dengan demikian lingkungan belajar harus dapat mendukung aktivitas belajar anak.

  1. 5. Model Pembelajaran Menurut Pandangan Progresivisme

Menurut Kohlberg dan Layen (Masitoh, dkk, 2003)) aliran ini berpandangan bahwa belajar adalah perubahan dalam pola berpikir melalui pengalaman memecahkan masalah. Ketika anak berinteraksi dengan lingkungan pengalaman nyata dan objek-objek nyata, anak akan mengalami masalah. Anak akan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya, dan ketika itu pula akan terjadi perubahan pola berpikir mereka.

  1. D. Belajar sambil Bermain yang Bermakna

Dengan memahami arti bermain bagi anak, maka dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan suatu kebutuhan bagi anak dan tentunya pengabaian terhadap hal tersebut akan berdampak tidak baik bagi perkembangan anak selanjutnya. Penelitian yang dilakukan oleh Odom, Mc Connel dan Chandler (Semiawan, 2000) bahwa kegiatan bermain bagi anak 75 % berkontribusi posistif terhadap perkembangan keterampilan sosialnya (social skills). Angka yang cukup tinggi tersebut setidaknya menggambarkan betapa penting kegiatan bermain bagi anak.

Belajar bermakna bagi anak sebenarnya berpijak pada prespektif apa yang dijadikan acuan. Tren yang sedang terjadi sekarang memandang bahwa paham kontruktivistik merupakan suatu aliran yang sangat mempengaruhi dunia pendidikan anak usia dini di negara-negara maju, khususnya di Eropa dan Amerika.

Aliran konstruktivistik berasumsi bahwa anak pada dasarnya memiliki kemampuan untuk membangun dan mengkreasi pengetahuan, pendekatan ini sangat menekankan pentingnya keterlibatan anak dalam proses belajar. Proses belajar dibuat secara natural, hangat dan menyenangkan melalui bermain dan berinteraksi secara harmonis dengan teman dan lingkungannya. Pada sisi yang lain, unsur variasi individual dan minat anak juga sangat diperhatikan sehingga motivasi belajar anak diharapkan muncul secara intrinsik.

Asumsi ini mengandung arti bahwa proses belajar yang bermakna terjadi kalau anak berbuat atas lingkungannya. Kesempatan anak untuk mengkreasi atau memanipulasi objek atau ide merupakan hal yang utama dalam proses belajar. Anak akan lebih banyak belajar dengan cara bermain berupa berbuat dan mencoba langsung daripada dengan cara mendengarkan orang dewasa yang memberikan penjelasan kepadanya.

Dengan berpijak pada pandangan konstruktivistik, Bredekamp dan Rosegrant (Solahuddin 1997) menyimpulkan bahwa kegiatan belajar sambil bermain yang akan memberikan kebermaknaan bagi anak adalah apabila hal-hal sebagai berikut terlaksana:

  1. Anak merasa aman secara psikologis serta kebutuhan-kebutuhan fisiknya terpenuhi ;
  2. Anak  mengkonstruksi pengetahuan;
  3. Anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan anak-anak lainnya;
  4. Minat dan kebutuhan anak untuk mengetahui terpenuhi; dan
  5. Memperhatikan unsur variasi individual anak.

Semiawan (2002) menambahkan terkait dengan pentingnya belajar sambil bermain bagi anak. Menurut pandangannya, anak-anak yang kebutuhan bermainnya terpenuhi, akan makin tumbuh dengan memiliki keterampilan mental yang lebih tinggi, untuk menjelajahi dunianya lebih lanjut dan menjadi manusia yang memiliki kebebasan mental untuk tumbuh kembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, sehingga menjadi manusia yang bermartabat dan mandiri. Lebih dari itu, ia terlatih untuk terus menerus meningkatkan diri mencapai kemajuan.

Referensi

  1. Agustin, M. (2005). “Bermain bagi Anak Usia Dini: Permasalahan dan Penangannya”. Jurnal Edukid. Vol 1. No 1 Juni 2005.
  2. Masitoh Dkk. (2003). Pendekatan Belajar Aktif di Taman Kanak-kanak. Depdiknas. Dikti. Proyek Peningkatan Pendidikan Tenaga Kependidikan.
  3. Rakhmat, J. (1988). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
  4. Semiawan, R.C (2002). “Pendidikan Anak Dini Usia, Belajar Melalui Bermain”, Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. 03. 18-22.
  5. Solehuddin, M. (1997). Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan; Bandung.
  6. Surya, M. (2002). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung : Yayasan Bhakti Winaya.

  1. lulu mwl
    18 Oktober 2009 pukul 12:36

    trima ksh atas tulisannya shg sy jd banyak belajar dan Insya Allah akan diterapkan dlm mengajar trimsss banget

  2. vivin erlina
    11 November 2009 pukul 15:19

    ini vivin pa, mahasiswa bapak. terima kasih ya buat infonya, kebetulan banget lagi buat tugas. Tuhan Memberkati.

  3. EKO CAHYO
    12 Januari 2010 pukul 12:55

    Kak saya pinjem tulisanya buat tambahan referensi analisis saya makacih banget……

  4. nini
    13 Januari 2010 pukul 09:46

    kak tulisanya saya pinjem ya buat tambahan refenrensi….

  5. 18 Maret 2011 pukul 01:58

    Intinya.. Metode belajar anak bukan hanya didalam kela aja.. tapi bisa dimana aja, bukan hanya klaikal aja, namun bia berbagai maca cara agar anak bia belajar dengan nyaman

  6. enizt
    21 Maret 2011 pukul 12:19

    sangat b’guna… matur nuwuun…🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: