Beranda > Info SMPN 1 Singajaya Garut, Pendidikan, Umum > Contoh : MAKALAH PENGEMBANGAN DIRI

Contoh : MAKALAH PENGEMBANGAN DIRI

PENGEMBANGAN DIRI
Oleh : Dr. Tri Marhaeni Pudji Astuti, M.Hum

A. Pendahuluan
Setiap orang ingin tumbuh, berkembang, sukses, dan maju. Keinginan yang wajar dan pantas untuk didukung. Manusia tidaklah hanya sekedar fisik yang membutuhkan makan, minum, pakaian dan tempat tinggal yang layak. Manusia ada dimensi-dimensi psikis yang juga harus dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Manusia adalah fisik yang mempunyai pikiran, perasaan, mata hati, dan emosi. Tidak hanya itu manusia juga mempunyai jati diri sebagai manusia karena ia bersatu dengan realitas keadaan sekitarnya.
Manusia memerlukan komunikasi dan interaksi dengan manusia lainnya, dan kebutuhan ini tidaklah dapat dihindarkan. Dalam hubungan dengan orang lain, ini semua yang ada dalam diri manusia baik fisik maupun psikis menjadi saling berhubungan, berinteraksi dan berkomunikasi. Dengan bantuan tubuhnya manusia melambangkan perasaannya, ekspresinya, keinginannya, emosinya dan pikiran-pikirannya. Oleh karenanya, dalam usaha mengembangkan diri pun dipengaruhi berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar manusia itu sendiri.
Kemampuan seseorang untuk mengembnagkan dirinya, mengoptimalkan potensi yang dimilikinya, berbeda-beda dan seringkali kendala juga datang dari diri sendiri. Terkadang diri sendiri tidak menyadari atau tidak memahami potensi yang ada dalam diri sendiri, sehingga tidak mampu mengembangkan kemampuan atau potensi diri sendiri. Oleh karenanya pemahaman yang benar terhadap potensi diri sangatlah penting. Tulisan singkat ini akan mengungkapkan arti dan pentingnya pengembangan diri, strategi pengembangan diri, manajemen kepribadian, dan menuju kecerdasan emosional.

B. Pengertian Pengembangan diri
Setiap orang tidak ada yang sama persis satu dan lainnya. Setiap orang juga menginginkan ‘menjadi diri sendiri’ dan semua orang mendambakannya. Kita ternyata adalah pribadi yang ‘unik’ ‘khas’ dan ‘istimewa’. Kita sebagai manusia masih dalam proses yang berkembang untuk menjadi semakin ‘unik’ ‘khas’ atau ‘istimewa’. Hal-hal yang membantu perkembangan kita ada di sekitar kita, kita bisa memanfaatkannya untuk menjadikan diri kita ‘penuh’ ‘yang paling baik’ dan yang unik. Kita bukan orang lain, bukan tiruan manusia lain. Tetapi kita adalah kita. Oleh karena itu biarkanlah diri kita berkembang sekarang juga, karena waktu adalah kesempatan yang tak bakal terulang kembali. Kita hanya memiliki satu kehidupan. Hidup adalah hari ini dan mengarah ke hari esok, maka JADILAH DIRI YANG KHAS DENGAN MEMBIARKAN DIRI KITA BERKEMBANG. MULAILAH SEKARANG JUGA!

C. Arti dan Pentingnya Pengembangan Diri
Seperti telah diungkapkan di awal tulisan ini, pengembangan diri sangatlah penting, karena dengan mengembangkan diri kita, akan dapat dikenali potensi diri, motivasi diri sehingga dapat meraih kesuksesan baik fisik, intelektual, emosi, sosial, dan spiritual. Dengan mengembangkan diri, kita dapat juga menyebutkan konsep diri, ketika ditanya siapa diri kita? Konsep diri bukanlah konsep tunggal, misalnya, Ani adalah perempuan, saya seorang guru, saya seorang suami, dan lain-lain. Konsep diri adalah konsep jamak yang mencerminkan keseluruhan aspirasi, keinginan dan harapan. Misalnya, “saya adalah seorang guru, juga seorang istri, yang mempunyai dua orang anak, saya ingin bekerja untuk mengembangkan kemampuan intelektual saya, dan saya akan tetap bekerja dan membangun keluarga di tengah kesibukan saya, dan tetap berusaha mencurahkan perhatian pada anak-anak saya”
Kapan kita harus mengembangkan diri? Dimulai sekarang juga, jangan ditunda lagi karena kalau tidak pernah dicoba untuk memulai maka kita tidak akan pernah tahu potensi kita, tidak mengenali potensi kita atau bahkan tidak memahami diri kita sendiri. Mengapa kita harus mengembangkan diri kita? Karena semua potensi yang ada di diri kita akan dapat menunjang kesuksesan. Di mana kita mengembangkan diri? Dimana saja, kapan saja! Siapa yang harus mengembangkan diri? Setiap orang harus mengembangkan dirinya! Bagaimana caranya?

D. Strategi Pengembangan Diri
Strategi pengembangan diri dipaparkan secara singkat dan di ambil dari pendapat Martha Mary McGraw (1987) dalam bukunya 60 Cara Pengembangan Diri
1. Menjadi Diri Sendiri yang Khas
Tidak ada seorangpun di dunia ini yang sama persis, demikian pula sebaliknya tak ada seorangpun di dunia ini yang dapat meniru secara persis. Dan tidak seharusnya kita meniru persis orang lain, kita adalah diri sendiri yang mempunyai khas-an yang tidak dimiliki oleh orang lain. Biarkan diri kita berkembang dengan ke khususan dan ke unikannya, dan jadikanlah hal itu menjadi modal dasar untuk meraih kesusksesan. Oleh karena itu menjadi diri sendiri yang khas dan unik adalah pilihan tepat.
2. Berkembang Terus
Kita adalah bagian dari lingkungan kita, mari kita lihat dan tatap diri kita. Kita pasti akan menemukan keindahan dalam diri kita. Jadilah tumbuh-tumbuhan yang selalu hijau. Tumbuh-tumbuhan yang tetap mekar sepanjang tahun, tanpa perlu ditanyakan apa sebabnya. Bunga-bunga liarpun bisa bermekaran menyemarakkan keindahan alam, dan di rumah kita. Kita adalah bunga itu.
Kita ajak sesama kita untuk bertukar pikiran, bertukar impian, maupun bertukar pengalaman. Kita tanyakan kepada mereka apa yang mereka miliki. Hal seperti ini dapat diibaratkan seperti penyerbukan silang. Senyumlah pada waktu kita mendengarkan pengalaman orang lain itu. Pasti akan ada manfaatnya bagi kehidupan kita.
3. Menjadi Menarik
Untuk menjadi menarik kita harus mengenali potensi dalam diri kita. Manarik tidak mesti cantik, gantheng, akan tetapi lebih pada pesona diri, apa yang ada di dalam diri kita. Untuk menjadi seseorang yang menarik kita bisa mengeksplore kemampuan kita, menyadari kekurangan kemudian menutupinya dan menonjolkan sisi lebih untuk membuatnya menjadi menarik. Menjadi menarik adalah juga merupakan pilihan. Seseorang akan memilih menjadi menarik atau masa bodoh tergantung dari dirinya sendiri. Percayalah bahwa diri kita betul-betul menarik. Keindahan kita diperhitungkan. Memang kita bukan ‘ratu kecantikan’ juga bukan orang yang paling tampan di seluruh negeri, tetapi percayalah bahwa kita memiliki ketampanan tersendiri. Jangan pernah merasa minder. Kita hanya perlu mengenal keindahan diri kita. Kita hanya perlu meyakinkah diri kita sendiri: “Bahwa saya sungguh sangat menarik”
Seseorang yang memiliki konsep diri negatif juga akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, rendah diri, merasa diri tidak layak untuk sukses dan masih banyak hal inferior lainnya. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri, dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya (Gunawan, 2005)
4. Bertanya Pada Diri Sendiri
Bertanyalah pada diri kita: “Siapa saya?” Mengapa saya diciptakan? Bagaimana saya berhubungan dengan sang pencipta? Apa yang sangat saya dambakan dalam hidup ini? Hal apa yang paling berharga dalam hidup saya? Sumbangan kecil apakah yang bisa saya buat demi dunia sekitar tempat saya berada agar menjadi lebih baik?
Jika saya berjalan, lalu melihat ke belakang, apa yang saya lihat? Apakah saya perlu mengubah sesuatu? Apakah saya sudah cukup puas dengan keberadaan diri saya?
Hanya dengan berdialog dengan mata batin kita secara jujur maka kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
5. Bersahabat
Setiap pribadi mampu bersahabat dengan kita, dan setiap individu dapat menjadi sahabat kita. Tiga keutamaan diperlukan dalam membangun persahabatan, Iman, Harapan dan kasih sayang. Tuhan yang pertama kali menjadi sahabat kita, pada waktu Ia menciptakan kita. Tiga keutamaan tersebut harus dibagi dengan orang lain. Kita bisa berharap dengan persahabatan. Kita bisa mengasihi dan menyayangi dengan persahabatan. Banyak sedikitnya sahabat tergantung pada sikap kita terhadap diri sendiri.
6. Mendukung Orang Lain
Jika pekerjaan kita kurang mendapatkan penghargaan barangkali kita masih mampu bertahan untuk hidup. Tetapi kita tidak akan mampu untuk bekerja keras dan baik kalau tidak ada seorangpun yang memperhatikan kita. Bisa jadi kita akan menjadi macet, malas, enggan bekerja. Ini berlaku bagi siapa saja. Kalau ada orang yang berhasil dan kita menepuk punggungnya sebagai tanda dukungan, dia pasti akan semakin berkembang.
Sebagai pemimpin/Kepala Sekolah memberikan pujian dan dukungan dengan tulus terhadap anak buah apapun keberhasilannya, seberapapun keberhasilan itu, akan menjadi semangat yang paling ampuh.
Namun jika perhatian dan dukungan kita palsu, pasti orang lain akan kecewa. Oleh karena itu kita perlu berusaha membri dukungan dengan maksud yang murni dan tulus tanpa pamrih, apalagi tersirat keirian.
7. Mengembangkan Talenta
Tidak pernah ada kata terlambat untuk mengerjakan hal-hal khusus yang kita inginkan. Terus dan lakukan saja! Barangkali memang sudah terlambat untuk belajar ’loncat galah’ (misalnya) seusia kita, Tapi itu kekecualian. Kita perlu menjebol keterbatasan kita. Kembalilah ’ke bangku sekolah atau kuliah’ Ikutilah lokakarya, seminar ataupun pelatihan. Kunjungilah ceramah-ceramah atau kita selenggarakan sendiri. Bidang apa yang kita kuasai? Beritahukanlah kepada teman sahabat, bahwa kita akan memberikan kuliah gratis, pasti kita akan menikmatinya demikian pula pendengarnya.
Talenta seseorang tidaklah sama, namun masing-masing orang pasti dibekali dengan talenta, tinggal bagaimana kita mengembangkannya, mengasahnya, untuk kemudian kita memetik hasilnya.
8. Membiarkan diri menjadi Bahagia, Belajar mencintai, Bernyanyi, Santai dan Tertawa.
Beberapa hal diatas adalah hal-hal yang menyenangkan yang mudah dilakukukan namun juga terkadang sulit untuk dilakukan. Apakah kita sungguh bahagia saat ini? Mari kita merenung, tahun-tahun yang telah lewat apa yang telah kita alami? Temukan saat-saat bahagia kita. Banyak orang telah menjadi ’sukses’ dalam hidupnya, tetapi tidak merasakan kedamaian. Jadilah bahagia sekarang juga. (Selanjutnya akan diuraikan tersendiri pada sub bab berikutnya).
Belajar mencintai bisa merupakan hal mudah bisa juga sebaliknya. Belajarlah mencintai apa yang telah kita raih dan kita miliki, mencintai Allah Swt. mencintai sesama, mencintai diri sendiri. Buatlah itu semua dengan cara yang tegas. Jangan ragu-ragu. Tataplah lawan berbicara manakala kita berbicara dengannya. Dengarkan baik-baik waktu mereka berbicara dengan kita. Biarkan mereka tahu bahwa kita penuh perhatian, sehingga mereka merasa senang dan berharga di hadapan kita. Biarkan orang tahu bahwa kita memperhatikan mereka, mencintai mereka. Ada pepatah, jabatan tangan mesara mempunyai seribu makna.
Benyanyi, santai, dan tertawa. Nikmatilah hidup dan kehidupan, bekerja juga perlu santai dan bergembira, karena ini akan mengendorkan ketegangan dan membuat kita nyaman. Ketika kita merasa nyaman secara fisik dan psikis maka aura kita akan muncul. Inner Beauty kita akan muncul, dan ini akan membuat nyaman semuanya.
9. Menjaga Kondisi Fisik
Manusia merupakan kesatuan jiwa dan badan. Jiwa mempengaruhi badan, sebaliknya badan juga mempengaruhi jiwa. Sadar akan kesatuan tersebut dan berbuat sesuatu untuk itu merupakan hal yang sangat penting.
Olah raga akan membuat fisik kita tetap dalam kondisi prima. Mulailah hari-hari kita dengan senam atau joging secara rutin, bisa pada waktu pagi atau sore hari. Buatlah diri kita selalu merasa sehat, sekalipun kondisi badan kita sedang tidak fit. Badan kita adalah kita, manakala kita merasa tensi naik, marah, ataupun sedih, cucilah mobil, potonglah rumput, berkebun, rawat bunga-bunga, lari-lari ataupun bersepeda.
10. Berbagi dengan Orang Lain
Apa yang kita miliki dan dapat dibagi dengan orang lain? Renungkanlah! Apapun yang dapat kita bagi, sekecil apapun itu akan sangat bermanfaat bagi kita dan bagi yang menerima. Apakah kita mempunyai pengalaman menarik, lucu, gembira, yang bisa dibagi dengan orang lain? Apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain? Untuk lingkungan? Untuk negara?
Berbagai dengan orang lain selain membahagiakan diri kita juga membahagiakan orang lain. Berbagai tidak hanya utnuk hal-hal kesenagngan saja terkadang pengalaman sedih dan gundah juga perlu berbagai agar kita menajdi ringan, dan dapat melangkah lagi. Berbagai pengalaman sedih bukan berarti mengeluh, harus dibedakan.
11. Memaafkan dan Melupakan.
Memaafkan dan berusaha melupakan adalah yang terbaik, namun terkadang sulit untuk dilakukan. Andaikan kita seorang pelupa yang jempolan, maka kita akan menjadi seorang pengingat yang paling bahagia. Belajarlah untuk memaafkan dan melupakan. Tidak akan menjadikan kita bahagia jika hati terluka satu kali dan diingat terus selamanya sepanjang waktu. Ketika seseorang menyakiti hati kita berterus teranglah dengan dia, senyumlah. Barangkali amat berat, tapi cobalah. Dan apapun masalahnya ada satu hal yang harus kita buat. Yakni memaafkan dan melupakan. Kita mampu mendapatkan kembali kedamaian hati. Kita dapat memeperolehnya dengan jalan memaafkan.
12. Berusaha untuk Tidak Tenggelam.
Suatu saat kita dapat berjumpa dengan apa yang disebut dengan ’kesulitan’, dalam situasi itu kita akan merasa berat. Tiba-tiba godaan muncul: ”untuk apa mengarungi lautan kehidupan?” Adakah tidak lebih baik kalau kita tenggelam saja di dalamnya? Demikianlah godaan yang selalu muncul manakala kita berada dalam saat krisis.
Tetapi bertahanlah. Berusahalah untuk tetap terapung di atas permukaan hidup. Percayalah banyak hal pasti akan menjadi lebih baik manakala kita mampu bertahan dalam situasi krisi itu.
13. Bersikap Lembut Namun Tegas
Bertindaklah tegas kalau situasinya memang menuntut demikian. Jangan takut untuk membela kebenaran. Jangan mudah percaya pada kebohongan. Dan jangan biarkan hidup kita jadi berantakan. Jadilah orang yang lembut. Lembut pada diri sendiri, pada orang lain dan pada kebaikan yang muncul dalam diri kita ataupun pada orang lain. Pupuklah kebaikan yang ada dalam diri kita walau itu sangat kecil. Namun hargailah pula kebaikan yang ada pada orang lain. Tetaplah tersenyum ketika kita harus mengatakan hal yang sangat tegas dan pasti.
14.”Joke” yang Cerdas
Bercanda dan lelucon amatlah penting dalam kehidupan kita, karena dengan hal itu kita bisa tertawa, bahkan bisa mentertawakan diri kita, kesalahan kita bahkan kenaif-an kita sekalipun. Banyak lelucon yang dapat kita buat, namun pilihlah lelucon yang cerdas, bukan yang porno. Banyak lelucon cerdas dan menggelitik yang akan membuat segar ruangan. Namun kita juga harus ingat masing-masing orang punya keterampilan ’melucu’ yang berbeda. Sekecil apapun berusahalah membuat joke di saat-saat yang tepat untuk mengurangi kejenuhan kerja pada diri sendiri dan rekan kita.

E. Manajemen Kepribadian
Kepribadian adalah kesatuan organisasi yang dinamis sifatnya dari sistem psikofisis individu yang menentukan kemampuan penyesuaian diri yang unik sifatnya terhadap lingkungannya (Alport, 1937)
Kepribadian itu merupakan perangsang atau stimulus sosial bagi orang lain. Reaksi orang lain terhadap saya itulah pribadi saya (pendapat May Morton dalam Kartono, 2005)
Kepribadian adalah segenap organisasi mental dari manusia pada semua tingkat dari perkembangannya. Ini mencakup setiap fase karakter manusiawinya, intelek, temperamen, keterampilan, moralitas dan segenap sikap, yang telah terbentuk sepanjang hidupnya, jadi mencakup seluruh kemampuan manusia dan segenap pengalaman sepanjang hidupnya (Warpen dalam Kartono, 2005)
Dari tiga pengertian tentang kepribadian tersebut tampak bahwa kepribadian bukanlah konsep tunggal, melainkan sangat kompleks dan semua itu ada dalam diri kita, dalam hidup kita. Oleh karenanya diperlukan keterampilan untuk mengelolanya agar kita menjadi pribadi yang menarik, bermanfaat, dan memepesona.

1. Motivasi untuk Merubah Sikap
Kepribadian pertama sekali dipengaruhi oleh motivasi. Pada hakikatnya sebuah motivasi adalah kekuatan yang mempunyai daya pembangkitan atau penimbulan motif, bisa juga dikatakan bahwa suatu kegiatan yang menjadi motif. Tingkah laku manusia dasarnya mempunyai motif. Mempelajari tingkah laku manusia, pada dasarnya adalah mengetahui secara pasti apa yang dilakukannya, bagaimana ia melakukanya dan mengapa ia melakukannya. Yang menjadi kendala untuk hal-hal tersebut biasanya berkenaan dengan pemahaman diri.
Motivasi adalah suatu keinginan yang hendak dicapai oleh setiap individu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan dirinya (Suparno, 2004) Akan tetapi pada kenyataannya tidak seorangpun yang dapat memuaskan semua kebutuhannya, dan itupun adanya saling mendapatkan dan saling melengkapi, apabila satu atau beberapa kebutuhan tidak dapat terpenuhi oleh kita, maka orang lain yang memenuhinya.
Motivasi sangat diperlukan untuk merubah sikap kita ke arah yang lebih baik, lebih maju, lebih berhasil dan sukses. Apabila kita tidak mempunyai motivasi untuk maju, maka kita juga merasakan bahwa keberhasilan hanyalah di ’awang-awang’. Sebaliknya jika kita mempunyai motivasi ingin terus maju dan berkembang, maka kesusksesan sudah di depan mata.
2. Mengapa Mesti Minder?
Bersyukurlah kepada Allah Swt. Yang telah menciptakan kita dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kita adalah pribadi yang unik dan masing-masing orang tidak sama, biarkan diri kita berkemabang. Jangan mencaci maki diri sendiri. Jangan pernah merasa tidak berharga, kita adalah yang terbaik dan buatlah itu dari waktu ke waktu.
Pelajarilah segala sesuatu tentang diri kita, sekali lagi jangan menghina diri kita sendiri, meremehkan dan mengabaikannya. Jangan pernah menyesali apa yang ada pada diri kita, kenalilah potensi kita buatlah itu menjadi hal-hal yang menarik. Kalau kita mempunyai kelemahan jangan berputus asa, karena pada dasarnya setiap orang juga mempunyainya. Dan ingatlah, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

3. Ciptakan Kesempatan
Pada waktu kita mengarungi samudra kehidupan, pasti kita akan memeperoleh kesempatan, entah kapan? Namun kita juga harus berusaha untuk menciptakan kesempatan sendiri. Jadikanlah peluang sebagai suatu kesempatan dan ciptakan sebagai tantangan untuk dilaksanakan, dan sukses. Tanamkanlah ini pada pikiran kita. Tataplah hidup dan buatlah situasi untuk diri sendiri. Temukan tempat untuk kita, jangan menunggu diberi tempat oleh orang lain.
Hidup bukanlah soup kalengan yang dipanaskan kemudian dihidangkan. Hidup adalah tantangan dan perjuangan. Kalau kita mau kita pasti bisa menciptakan kesempatan. Semuanya bergantung pada kita. Dan tiada akhir jika tidak ada awal, maka mulailah!
4. Mempunyai Pendapat
Apabila kita memiliki pendapat, itu berarti bahwa kita telah memikirkan dan memutuskan suatu titik pandang tertentu. Janganlah cepat-cepat mengubah pendapat tersebut, manakala ada orang lain yang mempunyai pendapat yang berbeda. Bagaiamanapun juga pendapat kita memiliki alasan yang kuat. Tanyakanlah pada orang tersebut apa yang menjadi pendapatnya?
Andaikan kita menemukan kesalahan dalam pendapat kita, janganlah kita takut-takut untuk mengubahnya. Sebab itu bisa terjadi bahwa pendapat kita belum berpijak pada sebuah fakta yang ada. Janganlah malu untuk mengakui kesahalan kita. Mengakui kesalahan tidaklah berarti kiamat, justru menunjukkan kematangan dan kearifan kita.
Janganlah ’mandeg’ dalam satu garis pemkiran saja. Kita perlu memebedakan anatara ”memiliki” pendapat dengan ”bersikeras” pada pendapat.
5. Memandang dengan Menyeluruh (Holistik)
Jika kita hendak memutuskan sesuatu yang penting, pakailah ’kaca mata ukuran orang tua’ agar kita dapat melihat dengan cermat dan teliti. Pakailah juga berbagai jenis dan warna kacamata, agar keputusan yang kita hasilkan bukanlah keputusan yang dihasilkan dari kaca mata hitam putih saja, melainkan ada warna-warna lain yang sangat indah dan menarik.
Jagalah agar semuanya tetap dalam perspektif masa depan. Buatlah itu semua dengan tidak mengabaikan orang lain. Sebab bisa terjadi apa yang menurut kita tdak penting, ternyata amat penting bagi orang lain. Oleh karena itu bertindaklah secara cermat.
6. Jadilah Tajam
Pensil yang tajam akan menghasilkan tulisan yang tajam pula. Pisau yang tajam akan menghasilkan irisan yang bagus dan halus. Akal yang tajam pasti juga akan membuat kepuusan-keputusan tajam pula. Cobalah kita memahami peristiwa-peristiwa yang muncul dalam hidup kita, dan berusaha untuk memeprhatikan semuanya.
Berprinsiplah ”seperti gelas berisi air, jika airnya ditumpahkan terus lama kelamaan akan habis” maka kita harus mengisinya dengan air lagi. Demikian juga otak kita, asahlah, berdiskusi dengan teman, saling mengisi dan saling membelajari diri sesama teman akan sangat bermanfaat untuk mengisi otak kita.
Janganlah bingung ketika kita berada dalam bahaya berbuat kesalahan besar. Berbicaralah dengan orang lain yang menurut hemat kita memiliki pengalaman dan kebijaksanaan. Jadilah tajam, berdirilah tegak, amati semuanya setajam mungkin.
7. Menghargai Waktu
Adalah tidak benar kalau kita mengatakan bahwa kita tidak mempunyai waktu untuk berbuat sesuatu, yang lebih tepat adalah bahwa kita tidak mampu menguasai waktu kita sehingga kita tidak mampu melakukan sesuatu yang harus kita lakukan.
Kita harus mengatur waktu kita dengan ketat apalagi jika berhubungan dengan orang lain. Karena kepercayaan mahal harganya dan terkadang kita sulit menjaganya. Oleh karenanya, menjadi orang yang tepat waktu dan dapat mengelola waktu dengan baik adalah menjadi idaman setiap orang.

8. Mendengarkan dengan Telinga dan Mata
Apakah kita seorang pendengar yang baik? Atau setidaknya ada orang yang pernah mengatakan bahwa kita adalah seorang pendengar yang baik. Pada waktu berbicara, orang tidak hanya berkomunikasi dengan kata-kata, tetapi juga dengan ekspresi wajah, nada suara, gerak tangan dan tatapan mata. Jika kita seorang detektif yang bertugas menangkap petunjuk lewat tanda-tanda hal seperti itu jelas sangat berguna. Membaca bahasa tubuh seseorang amatlah penting untuk mengetahui maksud yang sebenarnya. Belajar mendengarkan orang lain akan membuat kita bijaksana.
9. Menghargai Diri Sendiri
Hargailah diri kita sendiri. Berbanggalah dengan diri kita, kita memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, apapun itu, sekecil apapun itu. Kita adalah sesuatu yang berharga.
Bayangkanlah diri kita sebagai bingkisan yang dikirimkan untuk diri kita sendiri. Gambarkan diri kita sebagai patung indah yang dibungkus dalam jerami dan kotak kayu berukir indah. Dan bingkisan itu untuk kita. Pada waktu kita membuka kotak dan menyibak jerami penutup karya seni itu, bayangkanlah bahwa barang tersebut hidup, bernafas, bermasa depan cerah, menyenangkan, praktis, memiliki keamampuan yang luar biasa. Dan itu adalah diri kita, sungguh kita adalah bingkisan bagi diri kita sendiri.
Kalau kita bisa menjaga, melindungi, memperlakukan dan menghargai diri kita sendiri maka orang lain juga akan melakukannya untuk kita.
10. Menghargai Sang Pencipta
Kita akan menemukan kesulitan untuk menngungkapkan dengan kata betapa kita sangat menghargai Sang Pencipta kita. Allah Swt. sangat mengagumkan, Imaginatif, Menarik, Fantastis, Penuh cinta dan kasih sayang, Maha Pemaaf. Pokoknya segalnya bagi kita.
Kita dapat ’berkomunikasi’ dengan-Nya, berterimakasih pada-Nya, Mengagungkan-Nya. Dan kita ”ada” disebabkan karena cinta dan kehendak-Nya.

11. ”You Can”, if you think ”You Can”
Apapun yang ingin kita raih akan berhasil jika kita yakin bahwa kita bisa dan akan berhasil. Bukan sebaliknya. Dengan pikiran dan keyakinan bahwa kita bisa, akan menjadikan semangat, motivasi dan harapan yang paling ampuh.

F. Menuju Kecerdasan Emosional
Kemampuan intelektual saja ternyata belumlah cukup. Kecerdasan emosional juga sangat diperlukan. Emosi bukanlah sesuatu yang buruk, bukan kata yang buruk. Emosi meliputi, sedih, senang, marah, benci, haru, cinta dan bahagia. Tinggal bagaimana kita mengelolanya, untuk menjadikan emosi kita seimbang, wajar dan bermanfaat.
1. Kendalikan Emosi
Menurut Jen Z.A. Hans ( 2006) Emosi negatif adalah peringatan dari Allah swt. Agar kita mengubah persepsi (cara pandang) dan prosedur (tindakan atau perilaku)
Apakah yang mengubah hidup kita? Tindakan! Apakah ibu dari segala tindakan? Keputusan! Aapakah semua keputusan diikuti dengan tindakan? Tidak! Keputusan yang diikuti dengan tindakan hanyalah keputusan yang diambil dalam suasana emosi yang tepat. Emosi yang tepat? Bukankah emosi berada di luar kendali kita? Bukankah emosi merupakan respon spontan atas kejadian atau perbuatan orang terhadap kita?
Kita dapat menempatkan diri dalam suasana emosi yang tepat, di mana dan kapan saja kita mengingikannya. Emosi sepenuhnya berada dalam kendali kita. Empat langkah berikut merupakan kiat untuk mengendalikan emosi:
a. Mengubah Persepsi
Allah mengikuti prasangka hamba-Nya. Jika hamba berprasangka baik, niscaya Allah akan memeperlakukannya dnegan baik pula, sebaliknya kalau hamba berprasangka buruk, maka Allah akan memperlakukan dengan buruk sesuai dengan prasangkanya. Berusaha bersabar, selalu bersyukur atas nikmat Allah, meluruskan niat, menyempurnakan ikhtiar, dan menyikapi hasil (baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan harapan)
b. Mengoptimalkan Fisiologi Tubuh Kita
Kondisi tubuh sangat mempengaruhi emosi. Postur tubuh yang baik (badan tegak pada posisi duduk dan berdiri, bahu sejajar dengan panggul) akan memepengaruhi fisiologi tubuh kita, sehingga berpengaruh pada emosi kita. Dalam keadaan marah misalnya, jika seseorang tersebut sedang berdiri, segeralah duduk, jika duduk belum bisa meredakan kemarahan kita, berbaringlah.
Ketika fisiologi tubuh kita, dalam posisi kepala tertunduk berjalan gontai, mata menatap ke bawah, maka emosi yang muncul adalah sedih, haru, nelongso bahkan menangis. Coba tegaklah, maka tidak akan ada menangis sambil kepala tegak berdiri dan tubuh tegap penuh optimis.
c. Menetapkan dan Mencapai Tujuan-Tujuan yang Berharga
Kalau kita sibuk menetapkan dan mencapai tujuan-tujuan yang berharga, tak akan ada lagi tersisa waktu iri, dengki, riya’ dan mengalami sejumlah emosi negatif lain.
d. Gunakan Pereda Emosi
Ketika marah ucapkanlah astaghfirullah. Ketika sedih dan merasa kehilangan, ucapkanlah inna lillahi wa inna illaihi raajiuun. Ketika bahagia ucapkanlah, alhamdulillah. Ketika kagum, ucapkanlah subhanallah. Ketika takut, ucapkanlah Allahuakbar. Ketika panik, ucapkanlah la hawlaa walaa quwwaata illa billah. Atau kata-kata lain yang intinya semua berserah diri pada Allah Sang Pencipta.
2. Mengisi Sepuluh Tangki Kasih Sayang
Rahasia supaya tetap berhubungan dengan diri kita sejati adalah terus menerus menisi tangki kasih sayang. Sepajang tetap mengisinya, kita bukan saja akan mengalami meningkatnya kebahagiaan, kedamian, dan kepuasan, melainkan akan pula mampu bersentuhan dengan potensi batin dan kekuatan kita untuk menciptakan dan menark lebih banyak lagi. Begitu salah satu tangki terisi penuh, maka untuk tetap terhubung dengan diri sejati, Anda harus mulai mengisi tangki yang lain. Apabila sebuah tangki kasih sayang benar-benar penuh, tanda-tandanya tidak berupa rasa puas terus menerus. Malahan yang kerap muncul adalah rasa bosan atau gelisah dan akhirnya kekecewaan. Misalnya, kita merasa kecewa dengan kolega kita, sebetulnya kita merasakan kekosongan kolektif tangki-tangki kita yang lain. Ironisnya, tanda yang tidak mungkin keliru bahwa tangki sudah penuh adalah kesadaran bahwa kita kekurangan sesuatu.
Sepuluh tangki kasih sayang yang harus kita isi adalah:
a. Kasih sayang Allah
b. Kasih sayang orangtua
c. Kasih sayang Keluarga, sahabat, dan bersenang-senang
d. Kasih sayang teman sebaya dan teman lain yang memiliki sasaran sama
e. Kasih sayang dan cinta diri
f. Hubungan dan asmara
g. Mencintai anak
h. Memberi sumbangan kepada masyarakat
i. Memberi sumbangan kepada dunia
j. Mengabdi kepada Allah
3. Kebahagiaan Tidak bisa Dibeli dengan Uang
Ungkapan itu sangat familiar, meskipun orang masih saja gampang terjebak dalam jerat ilusi, bahwa sukses lahiriah mampu membahagiakan diri kita. Semakin kita beranggapan bahwa uang mampu membuat kita bahagia, semakin lemahlah kekuatan kita untuk mampu berbahagia tanpa uang.
Ungkapan lain yang juga sangat familiar adalah ”Yah…aku tahu sih, kalau uang memang tidak bisa bikin bahagia, tapi uang pastilah banyak gunanya” Ilustrasi berikut mungkin ada benarnya: ”Uang bisa membeli makanan yang enak, tapi tidak akan pernah bisa membeli rasa lapar. Uang bisa membeli ranjang yang empuk, tapi tidak akan pernah bisa membeli tidur yang nyenyak. Uang bisa membeli cinta dan nafsu, tapi tidak akan pernah bisa membeli kasih sayang”
Kegembiraan akan terasa bila kita berulangkali mengalami sendiri bahwa kebahagiaan tidaklah tergantung pada situasi lahiriah. Bukan uang yang membuat kita bahagia, tetapi keyakinan batin, perasaan, dan hasrat kita. Ketika memperoleh lebih banyak uang kita bahagaia karena kita beranggapan bahwa sekarang kita bisa menentukan apa yang kita mau. Kesempatan untuk bersikap seperti inilah yang sebenarnya membuat kita bahagia dan bukan uang itu sendiri. Untuk sejenak kita bisa bilang: ”Sekarang akau bisa mennetukan dan mengerjakan apa yang kumau”
Ketika kita merasakan sedikit saja rasa gembira atau senang maka tanamkanlah persaan itu pada diri dan aura disekitar kita, niscaya kita akan merasakan begitu luas dan besar kegembiraan dan kesenangan kita. Ibaratkan kegembiraan dan kesenangan adalah seperti ketika kita berendam dalam bak mandi, rasakan hangatnya air, pejamkan mata, dan ketika seluruh tubuh telah dialiri kehangatan air, bergeraklah sedikit saja, maka anda akan merasakan kehangatan itu makin merata dan terasa seluruh tubuh. Demikian pula dengan kebagaiaan, ibaratkanlah seperti itu.
4. Dunia Luar yang Membentuk adalah Dunia Dalam Kita
Apa yang terjadi dengan diri kita sebenarnya adalah kita yang menciptakan. Bagaimana dunia di sekitar kita adalah tergantung bagaimana kita memandang dan memikirkannya. Karena pikiran itu ibaratnya adalah menanam biji-bijian. Jika kita menanam biji murung maka kita akan mendapatkan kesedihan, jika kita menanm biji gembira dalam pikiran kita maka yang kita daptkan adalah kegembiraan, kebahagiaan dan kesenangan. Oleh karena itu biasakanlah mengganti biji pikiran dalam hidup agar dunia luar kita seperti apa yang kita inginkan. Proses mengganti biji pikiran inilah yang nantinya akan menimbulkan kepuasan dan kebahagiaan.
5. Bagaimana Mendapatkan Apa yang Anda Inginkan dan Menyukai yang Anda Miliki.
Tantangan sejati dalam hidup bukanlah bagaimana mendapatkan apa yang kita ingnkan, melainkan bagaimana tetap menginginkan apa yang telah kita dapatkan. Banyak orang tahu bagaimana mendapatkan yang diinginkannya tetapi setelah itu mereka tidak lagi menikmatinya. Apapun yang mereka peroleh rasanya tidak pernah cukup, mereka selalu merasa ada sesuatu yang kurang. Mereka tidak bahagia dengan dirinya sendiri, hubungan-hubungannya, kesehatannya, atau pekerjaannya. Selalu ada yang mengganggu ketenangan batinnya.
Tantangan lain adalah adalah bagaimana tetap merasa bahagia dengan segala kekurangan, tetapi menginginkan lebih banyak. Terkadang kita selalu menginkan ’hal yang lebih’ menginginkan mobil mewah, menginginkan uang yang banyak, menginginkan rumah mewah dan lain-lain. Maka justru kita akan sadar bahwa kita tidak membutuhkan lebih banyak untuk merasa bahagia. Kita cukup memerlukan sedikit saja dalam batin dan jiwa kita, dan kita gerakkan kebahagiaan itu niscaya nanti auranya akan memenuhi ruangan di mana kita berada.
Kalau kita selalu merasa kurang maka kita tidak akan pernah merasa cukup, maka apapun yang kita dapatkan rasanya tidak lagi memenuhi dan tidak lagi kita inginkan. Oleh karenanya mengisi sepuluh tangki kasih sayang sangat diperlukan agar kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dan tetap menyukai apa yang telah kita miliki.
G. Catatan Penutup
Hidup adalah sebuah pilihan, bertambah usia dan menjadi tua adalah niscaya, tapi menjadi bahagia dan bijaksana adalah pilihan.

T E R I M A K A S I H

REFERENSI
Goleman, Daniel. 2003. Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Gray, John. 2000. How to Get What You Want and Want What You Have. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Gunawan, W. Adi. 2005. Konsep Diri Positif Sumber Keberhasilan Hidup. Jurnal & Leadership Management.

Hans, Jen Z.A. 2006. Strategi Pengembangan Diri. Jakarta: Personal Development Training, Program Magister Manajemen, STIE IPWIJA.

Irmin, Soejitno. 2005. Menjadi Pemimpin yang Mempesona. Seyma Media.

Kartono, Kartini. 2005. Teori Kepribadian. Bandung: Mandar Maju.

McGraw, Martha Mary. 2006. 60 Cara Pengembangan Diri. Yogyakarta: Kanisius.

Suparno, 1987. Manajemen Kepribadian. Jakarta: Pilar Multisindo.

About these ads
  1. 4 Desember 2009 pukul 05:11

    Hmmm, tulisan yang menarik. Terima kasih telah berbagi, karena jujur saja saya merasa jarang ada yang menuliskannya dalam perspektif seperti ini. Kesuksesan memang harus dimulai dari dalam, serta dilakukan dengan penuh komitmen.

    Saya pikir kita memang perlu saling mengingatkan satu sama lain tentang teori dan proses pengembangan diri. Dan sebagai referensi silang, Anda juga pasti bisa menemukan cerminan lainnya dalam tulisan saya yang berjudul Racun Pengembangan Diri. Sekedar untuk semakin menambah wawasan saja, semoga bisa membantu.

    Salam kenal, sobat, senang bertemu dengan sahabat baru yang juga memiliki semangat untuk menginspirasi orang lain.

    Lex dePraxis
    Unlocked!

  2. muhajir
    3 Mei 2011 pukul 09:59

    makalah ini sangat bagus,bisa buat referensi untuk menambah pengetahuan.trims

  3. imam
    21 Januari 2012 pukul 05:59

    Maaf, boleh di copy paste?
    buat tugas kuliah

  4. Tovan
    27 Februari 2012 pukul 21:47

    ada conto alur proses langkah2 penggunaan dalam pembelajaran secara sistematis ga?? contonya apa ja boleh

  5. 3 Mei 2012 pukul 17:40

    makalah nya bagus saya copy faste y….
    buat tugas campus,,,,,
    trimmsss……

  6. iwan
    4 Mei 2012 pukul 23:44

    saya jg minta ijin COPAS buat bahan makalah…

  7. 27 Oktober 2012 pukul 08:42

    Salam kenal,tulisan ini sangat membantu saya untuk bahan tugas…mohon ijin untuk referensi tugas saya.terima kasih

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: