Beranda > Info SMPN 1 Singajaya Garut, Pendidikan > MODUL PTK untuk BERMUTU

MODUL PTK untuk BERMUTU

TUT
Kata Pengantar

Modul Penelitian Tindakan Kelas ini merupakan bagian dari seri 12 (dua belas) modul yang disusun untuk memfasilitasi kegiatan KKG/MGMP di masing-masing gugus. Modul ini dapat pula digunakan oleh kelompok kerja lainnya seperti KKKS, KKPS, MKKS, dan MKPS.
selengkapnya baca di sini
Materi yang dibahas dalam modul ini mencakup konsep dasar PTK, Pengembangan fokus masalah penelitian, Perencanaan tindakan, Pelaksanaan tindakan, Persiapan dan Pelaksanaan observasi, analisis dan refleksi serta evaluasi. Di samping itu, materi tentang teknik penyusunan proposal dan penulisan laporan PTK sebagai karya ilmiah juga dibahas dalam modul ini.

Tujuan dari penyusunan modul ini adalah untuk menyediakan bahan diklat tentang peningkatan kompetensi profesional guru melalui kegaiatan Penelitian Tindakan Kelas.

Modul ini sangat bermanfaat semua guru peserta KKG/MGMP, baik yang sudah memiliki ijazah S-1/D-4 atau pun yang belum. Begitu pula modul ini sangat bermanfaat bagi guru yang sudah memiliki golongan/ruang kepangkatan IV-a yang ingin naik ke IV-b dan seterusnya.

Modul ini sangat berguna sebagai bimbingan dalam melaksanakan kegiatan PTK bagi mereka yang akan melakukan perbaikan proses pembelajaran di kelas sekaligus berminat untuk menulis karya tulis ilmiah.

Sudah barang tentu dalam proses penulisan modul ini masih banyak kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran konstruktif sangat diharapkan untuk penyempurnaan modul ini baik dari segi substansi maupun cara penyajiannya.

Akhirnya penulis dengan segala hormat mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu baik secara materiil maupun moril sehingga modul ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Jakarta, Nopember 2007
Penulis.

DAFTAR ISI

Halaman
Kata Pengantar ………………………………………………….. i
Daftar Isi ………………………………………………….. ii
Daftar Gambar ………………………………………………….. iii
Daftar Tabel ………………………………………………………….. iv

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………….. 1
BAB II PENELITIAN TINDAKAN KELAS .……………………….. 3
A. Konsep Dasar PTK ………………………………………….. 3
B. Identifikasi Masalah ………………………………………….. 12
C. Rencana Tindakan …………………………………………. 14
D. Prosedur PTK …………………………………………. 17
E. Proposal PTK ………………………………………….. 26

BAB III APLIKASI DALAM PEMBELAJARAN ………………….. 30

BAB IV RANGKUMAN ………………………………………….. 32

BAB V EVALUASI ………………………………………….. 42

Daftar Pustaka ………………………………………… 44

DAFTAR GAMBAR

halaman
Gambar 1. ……………………………………………………………… 5
Gambar 2 ……………………………………………………………… 25

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. …………………………………………………………. 11

BAB I PENDAHULUAN

Modul Penelitian Tindakan Kelas (PTK) disusun untuk membantu guru peserta KKG dan MGMP dalam hal:
a. Merancang PTK,
b. Melaksanakan PTK,
c. Menganalisa data PTK, dan
d. Penulis laporanPTK.

Modul ini sangat penting dan berguna untuk meningkatkan kompetensi profesional guru dalam hal melakukan kegiatan penelitian, dan penulisan karya ilmiah, serta mendorong guru untuk berperan aktif dalam kegiatan forum ilmiah, seperti, seminar, simposium, konferensi, dan sebagainya.

Di samping itu, modul PTK ini sesuai dengan tujuan dari PTK itu sendiri sangat berguna untuk melatih para guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Karena melalui kegiatan PTK diharapkan guru akan selalu berusaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas, sehingga guru akan didorong untuk menjadi seorang kreatif dan inovatif dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

Untuk dapat memahami dan sampai dapat melakukan kegiatan PTK diperlukan waktu pelatihan selama 4 hari @ 8 jam pelatihan, atau setara dengan 32 jam pelatihan. Pelaksanaan pelatihan dapat dilakukan secara kontinyu dari hari pertama sampai hari keempat, atau dipecah menjadi kegiatan satu hari per minggu, sehingga diperlukan 4 minggu @ 1 hari. Cara pelatihan manapun boleh dilakukan dan dapat disesuaikan dengan waktu yang tersedia untuk kegiatan KKG atau MGMP di masing-masing tempat.

Tujuan yang ingin dicapai sebagai hasil dari pembelajaran modul ini adalah bahwa para peserta KKG/MGMP harus dapat:
a. Merancang proposal PTK
b. Melaksanakan kegiatan PTK di kelas masing-masing.
c. Menulis karya tulis ilmiah berdasarkan hasil PTK.
d. Mempublikasi artikel hasil PTK.
e. Menjadi penyaji dalam kegiatan forum ilmiah, seperti seminar, simposium, konferensi, lokakarya dan sebagainya, baik tingkat lokal, propinsi, nasional. Regional, maupun tingkat internasional.

Tujuan lain dari pembelajaran PTK melalui modul ini adalah untuk membantu guru peserta KKG/MGPM dalam meningkatkan kompetensi guru, khususnya kompetensi profesional.

BAB II PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Konsep Dasar.
Uraian tentang Konsep Dasar PTK ini akan penulis sajikan dalam bentuk cerita pengalaman penulis ketika hendak melatih guru dalam memahami PTK di suatu sekolah di Bandung. Waktu itu, sekitar tahun 1997, PTK masih relatif baru disampaikan kepada para guru dan dosen. Kebetulan penulis adalah salah seorang pengembang PTK melalui Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah (Proyek PGSM) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti).

Cerita pengalaman disajikan dalam kolom sebelah kiri, dan intisari dari tiap bagian dalam cerita disajikan dalam kolom sebelah kanan. Inti ini merupakan inti sari dari konsep Penelitian Tindakan Kelas. Cara ini dibuat agar pembelajar dapat membaca ilustrasi dari keadaan di sekolah dan dapat dengan mudah memahami sari dari konsep dasar PTK itu sendiri.

Cerita pengalaman ini sengaja disajikan untuk memberi ilustrasi dari kehidupan nyata dalam suatu kelas/sekolah. Berikut adalah uraian konsep dasar PTK yang dimaksud.

URAIAN PENGALAMAN DAN CONTOH
INTISARI
KONSEP PTK
Pada saat penulis mengunjungi satu sekolah lanjutan pertama tempat dimana penelitian tindakan kelas pertama kali akan penulis lakukan, penulis dipertemukan dengan salah seorang guru bidang studi IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Pada saat itu tim peneliti berjumlah 5 orang yang teridiri atas 2 orang dosen dan 2 orang guru SLTP dan 1 orang guru SMU.

Layaknya tamu, kami saat itu menjelaskan maksud kedatangan kami ke sana, yaitu untuk mengajak mereka untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Tahukah Anda bagaimana respon mereka ? Langsung saja respon para guru saat itu menampakkan rasa kekhawatirannya akan ajakan tersebut. Sebab selama ini apa yang mereka bayangkan tentang “penelitian” adalah suatu aktivitas yang melibatkan berbagai teori, metodologi dan hitungan statistika yang rumit dan membosankan. Dan kami saat itu mengajak mereka untuk melakukan PTK yang mungkin jangankan memahami apa itu PTK, mendengar saja mungkin baru saat itu. Sehingga spontan saja pertanyaan mereka yang pertama setelah kami berhasil menjelaskan bahwa dalam PTK tidak selalu memerlukan hitungan statistika rumit dan berbagai teori kependidikan yang mungkin belum pernah mereka pelajari adalah: “Apakah Pak yang dimaksud PTK ?” Penulis jawab: “ penulis tidak akan menjelaskannya sekarang, tapi akan penulis jelaskan sedikit demi sedikit pada saat kita melakukan PTK itu sendiri” (Istilah kerennya: Learning by doing). Saat itu tampaknya mereka cukup pesimis, sebab seolah mereka diajak berjalan di dalam kegelapan. Tetapi setelah dijelaskan bahwa PTK itu tidak rumit maka mereka mulai menyanggupi ajakan kami tersebut.

Penjelasan pertama tentang konsep dasar PTK kami sampaikan pada saat kami (guru dan dosen) akan menulis proposal PTK. Karena saat itu PTK baru diperkenalkan kepada para guru untuk pertama kali, kami mencoba menggali masalah-masalah yang dihadapi oleh para guru selama melakukan proses pembelajaran. Meskipun demikian ternyata pada awalnya kami mendapat kesulitan untuk memunculkan masalah-masalah yang dihadapi mereka. Hal ini disebabkan oleh adanya sikap defensif dari mereka. Mereka cenderung untuk mengatakan tidak ada masalah dalam setiap proses pembelajaran. Tetapi setelah diajak bicara secara santai akhirnya mereka mulai menceritakan berbagai masalah yang biasa dihapi sehari-hari, mulai dari masalah sepele sampai masalah yang memerlukan penanganan serius melalui kegiatan penelitian yang berkesinambungan. Masalah-masalah tersebut akhirnya dapat diklasifikasi sebagai berikut:
a. masalah yang berkaitan dengan input,
b. masalah yang berkaitan dengan proses kegiatan belajar mengajar, dan
c. masalah yang berkaitan dengan output.
Pada awalnya kami tidak berusaha memberitahu para guru tentang masalah apa saja yang layak untuk diteliti melalui PTK. Tetapi dari diskusi yang berlangsung secara teratur 2 kali per minggu, kami dari pihak dosen mencoba mengklasifikasi masalah itu seperti tersebut di atas.
Para guru sebenarnya sering menghadapi masalah dalam setiap pelaksanaan KBM-nya. Tetapi seringkali mereka kurang bisa mengidentifikasi sumber-sumber masalah tersebut. Akibatnya, sulit bagi mereka untuk merumuskan masalah-masalah untuk penelitian, sehingga akhirnya mereka enggan untuk melakukan penelitian. Oleh karena itu, ada baiknya bila dosen yang memiliki kemampuan mengidentifikasi sumber masalah bermitra dengan guru sekolah untuk melakukan PTK.
Diharapkan melalui kegiatan PTK yang kolaboratif ini terjadi interaksi saling menguntungkan antara dosen LPTK dan guru. Namun demikian, kemitraan bisa juga dilaksanakan antara guru dengan guru lain yang bidang studinya baik sama ataupun tidak sama. Terlepas dengan siapa guru itu bermitra, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi sumber masalah dan kemudian mengklasifikasinya.
Salah satu masalah yang menarik perhatian kami saat itu adalah masalah yang berkaitan dengan implementasi metoda pembelajaran. Sehingga kami saat itu sepakat untuk konsetrasi pada masalah ini. Masalah yang akan kami selesaikan saat itu secara rinci berkaitan dengan:
a. kemampuan membaca siswa dan
b. keterbacaan bahan ajar.
Apa yang kami maksud dengan kemampuan membaca adalah kemampuan membaca konsep-konsep IPA-Fisika. Jadi bukan kemampuan membaca suatu naskah kemudian menyimaknya. Tetapi jauh lebih dalam dari itu. Dan apa yang dimaksud kemampuan membaca konsep disini adalah kemampuan memahami konsep-konsep IPA-Fisika dalam bentuk:
* kemampuan menterjemahkan suatu persamaan sebuah konsep kedalam bentuk narasi,
* kemampuan menggunakan konsep-konsep dimaksud dalam bentuk hitungan,
* kemampuan mengaplikaikan konsep-konsep itu,
* kemampuan membaca kaitan antara konsep yang satu dengan konsep yang lain (peta konsep),
* kemampuan membaca grafik,
* kemampuan menterjemahkan grafik ke dalam bentuk konsep, serta
* kemampuan membuat dan menganalisa sebuah grafik fungsi.
b. Keterbacaan bahan ajar. Apa yang kami maksud dengan keterbacaan bahan ajar adalah keterbacaan bahan ajar yang ditulis:
* dalam bentuk persamaan,
* dalam bentuk kalimat pendek,
* dalam bentuk kalimat panjang,
* dalam bentuk grafik,
* dalam bentuk data,
* dalam bentuk bagan/gambar, dan
* dalam bentuk penjelasan setiap persamaan.
Setelah kami sepakat dengan masalah penelitian yang akan kami teliti, langkah berikutnya adalah menyusun rencana penelitian (proposal).

Pada saat penyusunan proposal ini kami mulai menjelaskan apa PTK itu sesungguhnya. Kami mulai memperkenalkan pengertian PTK kepada para guru. Pertama, kami jelaskan PTK ini dengan mengutip salah satu definisi dari sebuah sumber yang ditulis oleh David Hopkins. Di dalam buku itu disebutkan bahwa PTK adalah: “a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out”.

Dari definisi tersebut di atas, dalam konteks kependidikan PTK mengandung pengertian bahwa PTK adalah sebuah bentuk kegiatan inkuiri refleksi-diri yang dilakukan oleh para pelaku pendidikan dalam suatu situasi kependidikan untuk memperbaiki rasionalitas dan keadilan tentang (a) praktek-pratek kependidikan mereka, (b) pemahaman mereka tentang praktek-praktek tersebut, dan (c) situasi dimana praktek-praktek tersebut dilaksanakan. Oleh karena itu, PTK memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pengkajian masalah situasional dan kontektual pada perilaku seseorang atau kelompok orang. Artinya, solusi terhadap masalah-masalah yang digarap di dalam suatu kegiatan PTK tidak untuk digeneralisasi secara langsung. Jadi, setiap masalah yang muncul harus segera dicarikan solusinya untuk saat itu dan untuk kondisi dan konteks saat itu pula. Tidak harus menunggu suatu cara penyelesaian yang dapat berlaku umum di setiap situasi, kondisi, dan konteks. Namun demikian, tidak berarti bahwa PTK tidak dapat menemukan solusi yang bersifat general. Dari kegiatan PTK yang berkesinambungan dan terorganisasi dengan baik, maka pola solusi umum untuk beberapa masalah akan muncul atau nampak. Sehingga, generalisasi hasil suatu kegiatan PTK mungkin juga dicapai tetapi setelah melalui beberapa kegiatan PTK.
2. Ada tindakan. Perbedaan yang mencolok antara PTK dengan penelitian-penelitian lainya adalah harus ada tindakan perbaikan yang dirancang untuk mengatasi masalah yang dihadapi saat itu dalam konteks dan situasi saat itu pula. Tindakan (action) ini benar-benar dimaksudkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi, bukan untuk mengembangkan atau menguji sebuah teori, dan juga tidak dimaksudkan untuk mencari solusi yang berlaku umum disetiap situasi dan kondisi. Jadi tidak perlu ada generalisasi hasil PTK.
3. Penelaahan terhadap tindakan. Di samping adanya tindakan, dalam PTK tindakan yang dilakukan tadi harus ditelaah: kelebihan dan kekurangannya, pelaksanaannya, kesesuaiannya dengan tujuan semula, penyimpangan yang terjadi selama pelaksanaan, dan argumen-argumen yang muncul selama pelaksaan. Telaahan terhadap tindakan ini dilakukan pada saat observasi.
4. Pengkajian dampak tindakan. Dampak dari tindakan yang dilakukan harus di kaji apakah sesuai dengan tujuan, apakah memberi dampak positif lain yang tidak diduga sebelumnya, atau bahkan menimbulkan dampak negatif yang merugikan peserta didik.
5. Dilakukan secara kolaboratif. Mengingat kompleksitas pelaksanaan suatu PTK, maka ada baiknya jika PTK ini dilaksanakan secara kolaborasi. Kolaborasi dapat dilaksanakan antara guru dengan dosen LPTK, antara guru dengan guru lain yang bidang studinya baik sama ataupun tidak sama, atau bahkan antara guru dengan siswa.
• Refleksi. Kegiatan penting lainnya dalam suatu PTK adalah adanya refleksi. Dalam refleksi ini ada banyak hal yang harus dilakukan, yaitu mulai dari mengevaluasi tindakan sampai dengan memutuskan apakah masalah itu tuntas atau perlu tindakan lain dalam siklus berikutnya. Secara rinci penjelasan mengenai refleksi dalam PTK, saat itu kami sampaikan pada saat kami melaksanakan PTK. Arti sederhana dari kata refleksi adalah merenungkan apa yang sudah kita kerjakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Namun pada saat kami melaksanakan kegiatan PTK, kami menjelaskan arti refleksi dengan mengatakan bahwa sesungguhnya para guru sudah sering melakukan refleksi. Sebagai contoh refleksi yang sering dilakukan guru adalah pada saat seorang guru mengeluhkan tingkah laku negatif seorang siswa atau sekelompok siswa di dalam kelas kepada guru (guru-guru) lainnya. Guru tersebut mungkin langsung memperoleh tanggapan langsung dari guru (guru-guru) lain itu, atau mungkin guru lain itu sama sekali tidak merespon keluhan tersebut. Muncul tidaknya tanggapan itu mungkin disebabkan oleh beberapa kemungkinan, seperti: bagi guru lain yang memberi tanggapan mungkin keluhan itu juga dirasakan oleh guru lain itu sehingga mungkin muncul diskusi tentang keluhan negatif itu. Tetapi kemungkinan lain untuk guru yang memberi tanggapan itu adalah justru keluhan itu tidak pernah dirasakan oleh mereka sehingga keadaan seperti ini memunculkan rasa penasaran pada guru yang memiliki keluhan tadi. Mungkin ia bertanya pada dirinya sendiri, mengapa ia memiliki keluhan itu, sedangkan guru lain tidak. Dari sini guru itu mulai bertanya-tanya ada apa gerangan dengan dirinya. Jangan-jangan ia mengajar kurang baik, atau jangan-jangan ia penampilannya kurang disukai, atau jangan-jangan siswa merasa bosan dengan pelajaran yang ia ajarkan, atau jangan-jangan para siswa merasa kurang tertarik kepada pelajaran itu, atau jangan-jangan………., atau jangan-jangan…….. dst. Nah pada saat guru itu mulai menelaah ulang apa yang terjadi di dalam kelas, misalnya, maka kita katakan bahwa guru itu sedang melakukan refleksi. Refleksi adalah merupakan salah satu fase (tahap) penting di dalak PTK. Sebab dalam refleksi itu ada banyak kegiatan penting, seperti:
a. merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang telah dilakukan.
b. menjawab tentang penyebab situasi dan kondisi yang terjadi selama pelaksanaan tindakan
c. memperkirakan solusi atas keluhan yang muncul.
d. mengidentifikasi kendala/ancaman yang mungkin dihadapi.
e. memperkirakan akibat dan implikasi dari tindakan yang direncanakan.

Kegiatan refleksi itu terdiri atas 4 komponen kegiatan, yaitu:
a. analisis data hasil observasi,
b. pemaknaan data hasil analisa,
c. penjelasan hasil analisa, dan
d. penyimpulan apakah masalah itu selesai/teratasi atau tidak. Jika teratasi berapa persen yang teratasi dan berapa persen yang belum. Jika ada yang belum teratasi, apakah perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya atau tidak. Jadi dalam refleksi akan ditentukan apakah penelitian itu berhenti di situ atau terus.
Sebelum kami mulai melakukan kegiatan PTK terlebih dahulu kami juga jelaskan prinsip-prinsip PTK. Pada awalnya para guru mengira bahwa kami saat itu memerlukan waktu khusus untuk penelitian. Di samping itu, mereka juga mengira kalau PTK yang akan kami laksanakan itu merupakan kegiatan tambahan, sehingga ada kekhawatiran mengganggu tugas mengajar mereka. Dan yang paling sulit disadari oleh mereka saat itu adalah bahwa masalah yang akan kami garap adalah sesungguhnya masalah mereka. Hal ini mungkin para guru itu masih mengganggap bahwa kami masih sebagai dosen mereka dan sebagai pemilik masalah penelitian. Tetapi setelah kami jelaskan tentang prinsip-prinsip PTK yaitu: tidak mengganggu komitmen mengajar, tidak menuntut waktu khusus, dan masalah itu harus merupakan masalah yang dihadapi guru, barulah mereka merasa nampak lega.
Terakhir kami coba simpulkan perbedaan antara PTK dengan penelitian-penelitian yang selama ini sering dilakukan. Untuk memudahkan, penelitian-penelitian yang selama ini sering dilakukan penulis sebut saja penelitian Non-PTK. Perbedaan antara PTK dengan penelitian Non-PTK adalah sebagai berikut
Table 1 Sebaiknya PTK dilaku kan secara kemitraan (kolaborasi) baik anta ra guru dangan guru maupun antara guru dengan dosen.

Prinsip kemitraan adalah berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Ide penelitian sebaik-nya muncul dari para guru. Jadi tidak harus dosen menggurui gu-ru, dan sebaliknya ti-dak perlu guru me-nempatkan diri seba-gai bawahan.
Dosen memang memi-liki beberapa kelebih-an dalam hal teori, tetapi guru juga memiliki kelebihan dalam hal praktek di lapangan. Guru lebih mengetahui karakter kelasnya, dan dosen mengetahui banyak teori kependidikan.

Sebaiknya, masalah yang diteliti harus muncul dari guru itu sendiri, sebab guru yang mengetahui situ-asi dan kondisi siswa/ kelasnya sehari-hari. Di samping itu, masa-lah ini harus merupa-kan masalah yang bia-sa dihadapi guru.

Macam sumber masa-lah.
Pertama, masalah yang berkaitan de-ngan input dapat ber-sumber dari: siswa, guru, sumber belajar, materi pelajaran, pro-sedur evaluasi, dan lingkungan belajar. Kedua, masalah yang berkaitan dengan pro-ses kegiatan belajar mengajar dapat ber-sumber dari: Interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya guru/siswa, gaya me-ngajar, cara belajar, dan implementasi me-tode pembelajaran. Dan terakhir, masalah yang berkaitan de-ngan output dapat bersumber dari: hasil belajar siswa, daya ingat siswa, sikap negatif siswa, dan motivasi rendah.

PTK memiliki ciri sebagai berikut:
1. Pengkajian masa-lah situasional dan kontektual pada pe rilaku seseorang atau kelompok orang,
2. Ada tindakan,
3. Penelaahan terhadap tindakan,
4. Pengkajian dampak tindakan,
5. Dilakukan secara kolaboratif,
6. Refleksi.

Ciri PTK tersebut di atas sering dinyatakan dalam bentuk sebuah spiral yang sering disebut spiral PTK, seperti ditunjukkan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Spiral PTK.

Spiral PTK itu sesungguhnya melukiskan siklus demi siklus dalam PTK. Satu siklus terdiri atas 3 komponen PTK, yaitu rencana, tindakan/ observasi, dan refleksi. Dalam Gambar 1 di atas ditunjukan 3 siklus.

PTK memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Permasalahan sehari-hari di kelas
2. Kontekstual.
3. Kolaboratif (partisipatori).
4. Luwes.
5. Situasional dan spesifik.

Arti sederhana dari kata refleksi adalah merenungkan apa yang sudah kita kerjakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Kegiatan refleksi itu terdiri atas 4 komponen kegiatan, yaitu: analisis data hasil observasi, pemaknaan data hasil analisa, penjelasan hasil analisa, dan penyimpulan apakah masalah itu selesai/teratasi atau tidak.

PRINSIP-PRINSIP PTK
1. Tidak mengganggu komitmen mengajar.
2. Tidak menuntut waktu khusus.
3. Masalah yang diteliti harus merupakan masalah yang dihadapi oleh guru.

PENELITIAN NON-PTK PTK
 Dilakukan oleh orang dari luar.  Dilakukan oleh guru.
 Selalu memperhatikan populasi dan sampel.
  Tak dikenal istilah populasi dan sampel.
 Kurang memperhatikan ukuran/kerepresentatifan sampel.
 validitas & reliabilitas Instrumen harus dikembangkan dan diuji.  Instrumen cukup memiliki validitas isi.
 Menuntut penggunaan analisis statistik yang kompleks  Tak digunakan analisis statistik yang rumit.
 Sering memerlukan pembanding atau kelas kontrol  Tidak memerlukan kelas kontrol sebagai pembanding keberhasilan.
 Mempersyaratkan hipotesis penelitian.  Tidak selalu menggunakan hipotesis penelitian (kecuali yang berkaitan dengan uji teori)
Tujuannya untuk:
 Mengembangkan pengetahuan umum (teori)
 Tidak langsung memperbaiki praktik pembelajaran, tetapi melalui RDD. Tujuannya untuk:
 Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung.
 Memperbaiki mutu proses pembelajaran.

B. Identifikasi Masalah Pembelajaran.
Seperti diuraikan di atas, bahwa dalam kegiatan PTK selalu ditandai dengan adanya kegiatan berupa siklus demi siklus yang dilukiskan dalam bentuk spiral PTK. Dalam setiap siklus selalu diawali dengan rencana (plan). Rencana PTK harus dibuat oleh seorang guru ketika guru tersebut akan mulai melakukan PTK. Namun demikian, kunci utama dalam merumuskan rencana tindakan adalah guru harus merasakan ada masalah dalam setiap proses pembejaran di kelasnya. Jadi sebelum dapat membuat rencana tindakan, terlebih dahulu setiap guru harus merasakan adanya masalah pembelajaran di kelas dimana ia mengajar.

Yang jadi pokok permasalahan di sekolah adalah biasanya guru kurang merasakan adanya masalah pembelejaran di kelas, sehingga sulit untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang layak untuk diteliti dan diperbaiki melalui PTK.

Oleh karena itu, setiap guru harus memilikik kemampuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran yang penting dan berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran yang akan berakhir pada rendahnya mutu hasil belajar siswa. Memang bagi pemula akan terasa sulit mengidentifikasi masalah-asalah pebelajaran yang muncul di dalam kelas. Apalagi merumuskannya. Apabila guru masih mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi masalah, ada beberapa cara untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran di kelas. Berikut adalah contoh bagaimana cara mengidentifikasi masalah.
a. Selama guru mengajar, apakah guru merasa puas dengan hasil yang dicapai siswa?
b. Apabila guru memberi soal latihan atau tugas pekerjaan rumah, apakah guru merasa berhasil dalam melaksanakan proses pembelajaran?
c. Pada saat guru bertanya di depan kelas kepada seluruh siswa, apakah semua siswa antusias untuk menjawab pertanyaan guru.
d. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, apakah guru merasa yakin bahwa semua siswa memperhatikan dan memahami apa yang sedang dibahas/dipelajari?
e. Pada saat guru sedang menerangkan apakah semua siswa selalu memperhatikan penjelasan guru?
f. Apabila guru memberi ulangan harian/tes formatif/tes sumatif, apakah secara keseluruhan prestasi siswa sangat memuaskan?
g. Pada saat pembelajaran berlangsung dan guru memberi kesempatan bertanya pada semua siswa, apakah semua siswa antusias untuk bertanya?
h. Apabila semua siswa dalam kelas mengikuti pembelajaran melalui kegiatan diskusi kelompok, apakah setiap siswa terlibat secara aktif dalam kelompok?
i. Pernahkan guru merasakan bahwa siswa yang aktif bertanya dan aktif menjawab pertanyaan guru hanya segilintir siswa dan hanya siswa itu lagi-itu lagi yang aktif?
j. Pernahkah guru mengamati siswa yang mengantuk ketika proses pembelajaran sedang berlangsung?
k. Apakah dalam setiap proses pembelejaran aktifitas siswa cukup tinggi?
l. Apakah motivasi siswa dalam mengikuti setiap proses pembelajaran cukup tinggi?
m. Adakah siswa di dalam kelas yang selalu menjadi “trouble maker” atau pembuatan keonaran?
n. Dst. dst.

Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan untuk memunculkan rasa adanya masalah, sehingga guru mulai merasakan adanyanya masalah dan mulai dapat mengidentifikasinya.

Nah dengan menggunakan contoh-contoh pertanyaan tersebut di atas, coba mulai renungkan dan identifikasi, kira-kira masalah pembelajaran apa yang mulai dirasakan.

Identifikasi masalah pembelajaran dapat pula dilakukan melalui kegiatan refleksi awal sebelum PTK dilaksanakan. Dengan bercermin kepada pengalaman pelaksanaan pembelajaran, seorang guru dapat merenungkan dan mendeteksi kira-kira ada masalah apa dalam setiap pembelajaran sebelumnya.

Latihan.
1. Dengan menggunakan batuan pertanyaan seperti di atas, silahkan identifikasi 10 (sepuluh) masalah pembelajaran yang sering muncul di kelas Saudara.
2. Dari ke 10 masalah tersebut, kelompokan masalah-masalah tersebut ke dalam masalah yang tergolong masalah: motivasi belajar, aktivitas belajar, penguasaan konsep/materi pelajaran, masalah kemampuan berinteraksi siswa, masalah guru, dan masalah kemampuan berkomunikasi atau mengemukakan pendapat.

C. Rencana Tindakan (Plan)
Seperti dijelaskan pada bagian B di atas, seorang guru akan melakukan PTK jika guru tersebut mulai merasakan adanya masalah pembelajaran di kelas. Begitu ia merasakan adanya masalah penting yang untuk diatasi, maka ia harus bersiap melakukan perbaikan-perbaikan dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sampai masalah itu tuntas diatasi atau paling tidak diminimalkan.

Apa saja yang harus dilakukan dalam menyusun rencana tindakan? Tentu kita harus mulai dari jenis masalah pembelajaran. Masalah apa yang akan diatasi. Kemudian, kita harus mencari kira-kira dari sekian banyak teori kependidikan pembelajaran, kita harus dapat memilih tindakan yang sesuai dengan masalah yang akan diatasi. Jenis-jenis tindakan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran di antaranya adalah:
a. Macam-macam metode pembelajaran, seperti: metode ceramah, metode tanya-jawab, metode diskusi, metode demosntrasi, metode eksperimen, metode permainan, cara belajar siswa aktif (CBSA) atau active learning, PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan), metode problem solving, dan lain-lain.
b. Macam-macam pendekatan, seperti: pendekatan konsep, pendekatan proses, pendekatan inkuiri, pendekatan konstruktivis, pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning), Pendekatan keterampilan proses, pendekatan STM (Sains, teknologi dan masyarakat), dan pendekatan lainnya.
c. Macam-macam media, seperti: charta, bagan, model tubuh manusia, model organ manusia, peta, Tape Player, transparan/OHP (Over Head Projector), Film Strip, Film pembelajaran/pendidikan, slide proyektor, audi-video, TV Pendidikan, Laboratorium bahasa, laboratorium IPA, Laboratorium Matematika, Laboratorium IPS, Multimedia berbasis komputer, Internet, alat olah raga, sarana dan prasarana olah raga, laboratorium tataboga, laboratorium tatabusana, dan lain-lain.
d. Macam-macam alat peraga: seperti alat peraga untuk demonstrasi, alat peraga untuk eksperimen/percobaan, globe, peta bintang, peta langit, model tatasurya, teropong bintang, dan lain sebagainya.
e. Model-model pembelajaran, seperti model PAKEM, Model Discovery learning, Model Cooperative Learning, Model CBSA, Model Lesson Study, model Problem solving, model Inkuiri, dan sebagainya.

Selanjutnya apabila masalah pembelajaran telah diidentifikasi dan dirumuskan, serta tindakan yang dipilih diduga sudah sesuai dengan masalah yang akan diatasi, maka langkah selanjutnya adalah merencanakan pembelajaran seperti biasa, yaitu:
a. menyiapan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
b. merencanakan skenario pembelajaran (langkah-langkah pembelajaran) sesuai dengan tindakan yang telah dipilih,
c. menyusun instrumen evaluasi pembelajaran (Soal latihan, soal pre-post test, tugas, pekerjaan rumah, dan sebagainya.
d. Menyiapkan alat dan bahan pembelajaran yang sesuai dengan jenis tindakan yang dipilih.
e. Menyiapkan instrumen observasi, seperti catatan lapang (field note), dan/atau format observasi.
f. Meyiapkan alat bantu observasi, seperti tape recorder, camera foto, kamera video, dan sebagainya.
g. Menetapkan faktor-faktor yang akan diobsevasi/diteliti. Contoh:
 Faktor guru:
 apakah pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan skenario yang disepakati di awal?
 Apakah pelaksanaan tindakan sesuai dengan aturan main dari tindakan itu.
 Apakah guru melaksanakan proses pembelejaran sesuai dengan teori pemebelajaran yang dipilih.
 Faktor siswa:
 Respon siswa terhadap materi pelajaran.
 Respon siswa terhadap pertanyaan guru.
 Antusiasme siswa dalam mengerjakan latihan dan tugas.
 Kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa.
 Jumlah siswa yang aktif bertanya.
 Jumlah siswa yang aktif menjawab pertanyaan guru.
 Jumlah siswa yang kurang/tidak memperhatikan guru.
 Kondisi pembelajaran, apakah menyenangkan, menegangkan, membuat ngantuk, monoton.
 Faktor interaksi:
 Interaksi antar siswa
 Interaksi atara siswa dengan guru
 Aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
 Sosiogram (peta interaksi antar siswa dan antara siswa dengan guru selama proses pembelajaran berlangsung).
 Dan sebagainya

h. menetapkan tim PTK dan tugasnya masing-masing, siapa yang akan menjadi pelaku tindakan dan siapa yang akan menjadi pengamat (observer).
i. Menetapkan jumlah siklus yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sesungguhnya, jumlah siklus tidak dapat dengan PASTI ditentukan di awal kegiatan PTK, karena jumlah siklus sangat bergantung kepada besar-kecilnya, dan rumit-tidaknya masalah. Namun demikian, kita harus dapat memperkirakan jumlah siklus yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut. Kalau kenyataannya jumlah siklus lebih banyak atau lebih sedikit dari jumlah yang ditetapkan di awal kegiatan, tidak apa-apa, sebab yang menjadi ukuran dalam PTK bukanlah jumlah siklus, tetapi apakah masalah itu teratasi atau belum. Jika sudah teratasi, meskipun jumlah siklus yang dilakukan baru sedikit, maka selesai sudah PTK untuk masalah itu. Sebaliknya, jika masalah masih belum juga tuntas padahal jumlah siklus sudah melebihi dari jumlah yang ditetapkan, maka guru harus terus melanjutkan ke siklus-siklus berikutnya sampai masalah itu selesai.

Latihan
1. Tuliskan macam-macam tindakan yang terkait dengan (selain dari yang sudah ditulis di atas):
a. Metode pembelajaran
b. Pendekatan pembelajaran.
c. Media pembelajaran.
d. Strategi pembelajaran.
e. Pengelolaan kelas.
f. Model pembelajaran.

D. Prosedur PTK
Ketika seorang guru telah memahami dan siap untuk melakukan kegiatan PTK, maka ia harus mengetahui tahapan atau prosedur pelaksanaan PTK secara sistematis. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui seorang guru yang akan melakukan kegiatan PTK, yaitu sebagai berikut:
a. Mengembangkan fokus masalah.
b. Merencanakan tindakan.
c. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi.
d. Refleksi dan Analisa data.
e. Rencana tindakan lanjutan jika masalah belum diselesaikan secara tuntas.

D.1 Mengembangkan Fokus Masalah.
Mengembangkan fokus masalah merupakan pangkal utama dalam kegiatan PTK. Seperti dijelaskan di atas, bahwa kegiatan PTK hanya akan terjadi jika seorang guru memiliki masalah pembelajaran yang penting untuk diselesaikan. Nah ketika seorang guru sudah merasakan memiliki masalah pembelajaran maka ia harus dapat memfokuskan masalah apa yang akan pertama kali ia selesaikan. Dalam proses mengembangkan fokus masalah, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu:
a. Merasakan adanya masalah
b. mengidentifikasi masalah.
c. menganalisis masalah.
d. Merumuskan masalah.
Setelah dirasakan dan diidentifikasi, maka masalah pembelajaran yang dimiliki seorang guru harus dianalis. Untuk dapat menganalisa masalah, seorang guru dapat menggunakan bantuan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut:
1. Apakah masalah yang ia hadapi tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil.
2. Apakah masalah itu dapat diselesaikan oleh guru.
3. Apakah masalah itu terkait langsung dengan pembelajaran.
4. Apakah masalah itu perlu segera ditangani.
5. Apakah masalah itu tidak akan menimbulkan masalah baru.
6. Apakah masalah itu relevan untuk kegiatan PTK. Dan seterusnya.

Jika masalah terlalu kecil, maka guru tidak perlu melaksanakan PTK, cukup dengan tindakan atau penyelesaian sederhana. Contoh, jika ternyata ada masalah tentang siswa yang tiba-tiba ngantuk karena malam sebelumnya telah ada kegiatan sampai larut malam, maka guru cukup menyuruhnya cuci muka, misalnya. Sebaliknya, jika masalah terlalu besar atau luas, maka masalah tersebut akan sulit diatasi oleh seorang guru. Contoh, masalah rendahnya nilai ujian nasional untuk mata pelajaran yang ia ampu. Rendahnya nilai unjian nasional akan sangat sulit bagi guru untuk dapat mengatasinya, karena banyak faktor yang menentukan tinggi rendahnya nilai ujian nasional. Oleh karena itu, sebaiknya jangan melakukan kegiatan PTK yang bertujuan untuk meningkatkan nilai ujian nasional secara langsung. Memang benar jika proses pembelajaran telah diperbaiki melalui kegiatan PTK, maka diharapkan semua hasil pembelajaran siswa termasuk nilai ujian nasional harus meningkat. Tapi PTK tidak secara langsung bertujuan untuk meningkatkan nilai-nilai ujian nasional, tetapi PTK bertujuan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran.

Begitu juga jika masalah pembelajaran itu diluar kemampuan guru untuk menyelesaikannya, maka sebaiknya guru menghindari masalah seperti itu. Contoh, jika ternyata kurikulum yang digunakan ternyata tidak sesuai dengan keadaan lokal daerah setempat, maka guru tidak mungkin mengubah kurikulum itu sendirian. Kecuali untuk kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), guru masih dapat memodifikasi baik urutan materi, alokasi waktu, atau pun hal lainnya yang terkait dengan penyesuaian KTSP.

Masalah yang dapat diselesaikan melalui kegiatan PTK adalah masalah yang harus terkait langsung dengan proses pembelajaran. Jika masalah itu muncul karena hal lain dan tidak terkait langsung dengan proses, maka guru harus berhati-hati jangan sampai mencoba mengatasinya dengan kegiatan PTK. Contoh, masalah tentang rendahnya aktivitas siswa akibat kondisi sosial ekonomi orang tua siswa yang rendah. Rendahnya kondisi sosia ekonomi orang tua siswa tidak mungkin dapat diatasi oleh seorang guru. Jadi tidak mungkin guru melakukan PTK untuk meningkatkan sosial ekonomi orang tua siswa. Namun demikian, rendahnya aktivitas siswa di kelas masih relevan untuk ditangani dengan PTK.

Masalah yang harus diatasi oleh guru melalui PTK adalah masalah yang memang harus segera diselesaikan oleh guru yang bersangkutan. Jika masalah itu tidak memerlukan penanganan segera, maka kegiatan PTK tidak perlu dilakukan. Contoh masalah tentang rendahnya kepemilikan buku teks oleh siswa. Rendahnya tingkat kepemilikan buku pelajaran oleh siswa bukan masalah yang dapat diatasi melalui kegiatan PTK. Tetapi masalah ini bisa diatasi melalui pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah (BOS) misalnya.

Dengan demikian belum tentu semua masalah yang dimiliki seorang guru harus atau dapat diselesaikan melalui kegiatan PTK.

Setelah semua masalah dianalisa dan ternyata ada masalah yang sesuai untuk ditangani melalui kegiatan PTK, selanjutnya guru merumuskan masalah penelitian.

Latihan
1. Tuliskan beberapa contoh masalah yang cocok untuk PTK.
2. Tulis beberpa contoh masalah yang terlalu luas untuk PTK.
3. Tuliskan beberapa contoh masalah yang terlalu kecil untuk PTK
4. Tuliskan beberapa contoh masalah di kelas yang tidak terkait langsung dengan pembelajaran.
5. Tuliskan beberapa contoh masalah yang diluar kemampuan guru pada umumnya untuk menyelesaikannya.

D.2 Merencanakan Tindakan.
Setelah masalah dianalisa, dan dirumuskan dengan baik, langkah selanjutnya adalah merencakan tindakan perbaikan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam merencanakan tindakan perbaikan, yaitu sebagai berikut:
1. Formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan.
2. Analisis kelayakan solusi (tindakan).
3. Persiapan pelaksanaan tindakan.
4. Inventarisasi komponen pendukung.

Jika tindakan perbaikan telah dipilih, selanjutnya guru harus memformulasikan solusi dalam bentuk hipotesis tindakan (sekali lagi BUKAN hipotesis penelitian). Contoh, misalkan masalah pembelajaran yang akan diselesaikan seorang guru terkait dengan rendahnya aktivitas siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Kemudian guru menduga bahwa untuk mengatasi masalah ini misalnya dengan menggunakan metoda bervariasi yang menarik sehingga diharapkan siswa menjadi antusias untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya. Dugaan guru tentang solusi, yaitu dengan menggunakan metoda bervariasi (contoh:diskusi, tanya-jawab, demonstrasi, dsb), harus diformulasi dalam bentuk hipotesis tindakan, misalnya sebagai berikut:

“masalah rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran pokok bahasan ………. Dalam mata pelajaran………. Dapat diselesaikan dengan menggunakan metoda bervariasi yang terdiri dari metoda diskusi, tanyajawab, demonstrasi, dan eksperimen”.

Dalam hipotesis tindakan tersebut tercermin bahwa guru akan berusaha untuk mengatasi masalah pembelajaran dengan menggunakan beberapa jenis metoda pembelajaran untuk beberapa siklus dengan satu metoda untuk setiap siklusnya.

Meskipun guru telah menduga solusi atas masalah yang ia miliki yaitu dalam bentuk formulasi hipotesis tindakan seperti di atas, tetapi profesionalitas guru tetap dituntut untuk dapat mengukur apakah solusi yang ia tawarkan memang dapat mengatasi masalah itu atau tidak. Dalam hal ini, guru tidak boleh asal menduga solusi untuk sebuah masalah. Ia harus benar-benar menganalisa kelayan solusi yang ia duga. Bagaimana cara menganalisa kelayakan dugaan solusi yang ia akan gunakan dalam kegiatan PTK? Salah satu caranya adalah sebagai berikut:
1. Kuasai dengan baik secara teoritis dan cara penggunaan tindakan itu dengan baik.
2. Kemudian pelajari apa dan seberapa banyak kebaikan-kebaikan dari solusi (tindakan) itu.
3. Pelajari juga kelemahan solusi (tindakan) itu.
4. Timbang, mana yang lebih banyak. Kebaikannya atau kelemahannya.
5. Jika ternyata kebaikan masih lebih banyak dari pada kelemahannya, sesuaikan dengan masalah yang ada, apakah kebaikan-kebaikan itu dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Jika tidak sesuai dengan masalah yang ada, maka solusi (tindakan) itu harus segera diganti.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis tindakan, yaitu:
a. Kemampuan guru. Apakah guru memiliki kemampuan untuk memahami dan melaksanakan tindakan dengan baik.
b. Kemampuan siswa. Apakah siswa di kelas tersebut memiliki kemampuan untuk mengikuti pembelajaran dengan tindakan yang dipilih.
c. Ketersediaan alat pendukung di sekolah. Apakah di sekolah/kelas itu ada sarana-dan prasarana pendukung pembelajaran, seperti listrik, air, dan gas.
d. Iklim belajar di kelas. Apakah iklim belajar di kelas itu cukup kondusif untuk pelaksanaan PTK, misalya ruang cukup luas, jumlah siswa yang memadai, tidak bising, dsb.
e. Iklim kerja di sekolah. Apakah iklim kerja cukup kondusif, misalnya: kidak kekurangan guru untuk tiap matapelajaran, ada dukungan kepala sekolah dan pengawas, dsb.

Setelah dugaan solusi itu dianalisa kelayakannya, langkah berikutnya adalah persiapan pelaksanaan tindakan. Apapun jenis solusi (tindakan) yang diduga dapat mengatasi masalah yang ada, sebelum pelaksanaan tindakan tersebut harus benar-benar dipersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan nanti. Jangan sampai pada saat pelaksanaan tidakan masih banyak hal yang harus ada dan mendadak dicari saat pelaksanaan tindakan. Hal ini akan sangat berpengaruh pada proses penyelesaian masalah dengan tindakan itu. Kalau tidak berhasil mengatasi masalah, jangan-jangan bukan karena tidak sesuai antara masalah dengan tindakan yang dipilih, tetapi bisa saja akibat pelaksanaan tindakan yang tidak benar karena persiapan yang tidak baik pula.

Setelah segala sesuatu yang terkait dengan tidakan dipersiapkan dengan baik, jangan lupa untuk menginventaris faktor pendukung. Faktor pendudung pelaksanaan tindakan harus diinventaris. Sebagai contoh, jika tidakan yang dipilih misalnya akan menggunakan alat peraga atau ala demonstrasi, dimana alat peraga tersebut memerlukan tenaga listrik atau memerlukan air misalnya, maka harus dipastikan bahwa tenaga listrik atau air sebagai sarana pendukung harus tersedia di kelas saat proses pembelajaran (pelaksanaan tindakan) nanti berlangsung.

Latihan
1. Buat beberapa contoh hipotesa tindakan untuk beberapa contoh masalah PTK.
2. Tuliskan beberapa faktor pendukung untuk sebuah tindakan.

D.3 Pelaksanaan Tindakan dan Obeservasi
Setelah semua perencanaan dibuat dengan baik, langkah berikut adalah pelaksanaan tindakan dan observasi pelaksanaan tindakan. Di samping itu, juga harus dilakukan evaluasi baik proses maupun hasil pembelajaran. Jadi pada dasar pada bagian ini ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Pelaksanaan tindakan melalui pelaksanaan proses pembelajaran.
b. Observasi pelaksanaan tindakan selama proses pembelajaran berlangsung sejak awal sampai akhir.
c. Evaluasi proses dan hasil pembelajaran.

Saat pelaksanaan tindakan dalam kegiatan PTK, sesungguhnya apa yang dilakukan oleh guru adalah melaksasanakan proses pembelajaran seperti biasa namun disesuaikan dengan perencanaan yang telah disepakati di awal. Saat pelaksanaan tindakan ini harus jelas siapa yang akan mengajar di depan kelas, dan siapa yang akan menjadi pengamat (observer). Begitu pula skenario pembelajaran harus dilaksanakan sesuai dengan skenario yang telah dibuat. Langkah-langkah pembelajaran seperti biasa dimulai dengan fase apersepsi, kegiatan inti, kegiatan penutup, dan evaluasi. Hal lain yang harus diperhatikan adalah langkah-langkah dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah proses pembelajaran pun harus sesuai dengan perencanaan yang dibuat dalam RPP yang dibuat oleh guru.

Pada saat proses pembelajaran berlansung sejak awal, bahkan sejak guru memasuki ruang kelas harus mulai dilakukan observasi. Observasi ini merupakan kegiatan utama juga dalam kegiatan PTK. Jadi observasi ini harus betul-betul dilaksanakan dengan baik, karena baha-bahan yang diperlukan dalam fase refleksi nanti sebagian besar atau bahkan mungkin seluruhnya berasal dari hasil obeservasi. Jadi bila dimungkinkan pengamat yang melakukan observasi pelaksanaan tindakan ini lebih dari satu orang. Di samping itu, instrumen/alat-alat observasi pun harus disediakan selengkap mungkin. Di samping instrumen observasi dan catatan-catatan lapangan (field notes), alat-alat observasi seperti tape recorder, camera foto, atau kamera video juga sebaiknya disediakan. Alat-alat observasi ini sangat berguna untuk merekam semua kejadian di dalam kelas, sehingga ketika kegiatan refleksi akan tersedia rekaman proses pembelajaran secara utuh sebagai bahan analisa apakah masalah yang dihadapi itu sudah selesai diatasi atau belum.

Apa yang harus diobservasi tentunya harus disesuaikan dengan masalah yang akan diatasi dan harus disesuaikan dengan faktor-faktor yang akan diobservasi atau diteliti. Namun pada umumnya faktor-faktor yang diobesvasi dapat dikelompokkan menjadi 3 kelopok utama, yaitu:
a. Faktor guru
b. Faktor siswa
c. Faktor interaksi.

Setelah selesai satu tindakan atau satu proses pembelajaran sebaiknya diadakan evaluasi proses dan hasil pembelajaran. Evaluasi proses dapat dilakukan dengan cara mencocokan:
a. Apakah kegiatan yang dilakukan guru dalam kelas telah sesuai dengan perencanaan semula.
b. Apakah skenario pembelajaran sesuai dengan rencana.
c. Apakah materi pelajaran yang disampaikan tidak melebar atau keluar dari yang direncanakan.
d. Apakah tidak terjadi pergantian pelaku tindakan dan pengamat.
e. Apakah penggunaan waktu pembelajaran sesuai dengan rencana semula.
f. Apakah evaluasi yang dilakukan guru sesuai dengan alat evaluasi yang disiapkan.
Selain evaluasi proses pembelajaran, evaluasi hasil pembelajaran pun harus dilakukan dalam setiap siklus. Bentuk evaluasi hasil dapat berupa:
a. Soal-saol latihan
b. Tugas-tugas.
c. Pekerjaan rumah.
d. Soal ulangan.
e. Portofolio.
f. Tugas lapangan.
g. Tugas praktek.
h. Makalah.
i. Dsb.
Semua bentuk evaluasi hasil pembelajaran tersebut sangat penting untuk mengukur dampak dari kegiatan PTK. Kita akan mengetahui apakah masalah PTK itu teratasi sehingga kualitas proses pembelajaran meningkat. Diharapkan, jika kualitas proses pembelajaran menjadi lebih baik akan berdampak pada peningkatan hasil pembelajaran yang diukur melalui bentuk-bentuk evaluasi tersebut di atas.

D.4 Refleksi dan Analisa data.
Setelah selesai melakukan satu tindakan dalam setiap siklus harus selalu diakhiri dengan kegiatan refleksi. Refleksi dalam satu siklus PTK merupkan fase akhir dan berperan sangat penting untuk mengetahui apakah masalah PTK sudah tuntas diatasi atau belum. Jika sudah maka kegiatan PTK dihentikan pada siklus itu, sedangkan jika belum tuntas maka harus diteruskan ke siklus berikutnya.

Peserta dalam kegiatan refleksi adalah semua anggata tim PTK. Masing-masing aggota harus berperan aktif dalam setiap kegiatan refleksi, mengingat fase refleksi merupakan fase analisa data yang akan berujung pada keputusan apakah kegiatan PTK akan lanjut ke siklus berikutnya atau tidak.

Bahan yang dibahas dalam kegiatan refleksi adalah semua data hasil observasi dan data hasil pretes dan postes. Jenis data yang akan dianalisa dapat berupa data kualitatif atau kuantitatif bergantung pada jenis masalah yang sedang diatasi.

Hasil akhir dari kegiatan refleksi adalah harus berupa keputusan apakah kegiatan PTK harus lanjut ke siklus berikut atau selesai sampai pada siklus yang bersangkutan. Selesai tidaknya sebuah kegiatan PTK sangat bergantung pada tercapainya indikator kinerja PTK.

Indikator kinerja merupkan ukuran tingkat keberhasilan PTK. Penetapan indikator kinerja PTK dilakukan pada perencanaan siklus pertama. Artinya, semua anggota Tim PTK harus sepakat di awal kegiatan tentang indikator kinerja.

Kriteria penentuan indikator kinerja PTK sangat bergantung pada kondisi kelas dan seting PTK. Oleh karena itu, peran guru pelaku tindakan sangat penting dalam menentukan indikator kinerja, karena guru inilah yang mengetahui segalanya tentang karaktertistik kelas dan siswanya. Ada beberapa cara penetuan indikator kinerja PTK, yaitu:
a. Prinsip ketuntasan belajar.
b. Cara terbuka.

Prinsip ketuntasan belajar digunakan jika PTK harus menghasilkan perbaikan terkait dengan ketuntasan belajar siswa. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu proses pembelejaran dianggap tuntas jika 80 % dari jumlah siswa memperoleh nilai 6 ke atas. Prinsip ini bisa diadopsi untuk kegiatan PTK dengan masalah yang terkait langsung dengan mutu proses pembelajaran. Sebagai contoh, indikator kinerja untuk satu kegiatan PTK dengan masalah tentang rendahnya aktivitas belajar siswa adalah sebagai berikut. Kegiatan PTK dianggap berhasi jika 80 % dari jumlah siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian jika dalam kegiatan refleksi ditemukan jumlah siswa yang aktif dalam proses pembelajaran telah mencapai 80 %, maka diputuskan bahwa kegiatan PTK untuk masalah tersebut telah selesai dan siap untuk menulis laporan. Sebaliknya, jika dalam kegiatan refleksi ditemukan bahwa jumlah siswa yang aktif dalam pembelajaran ternyata masih belum mencapai 80 %, maka kegiatan PTK harus dilanjutkan ke siklus berikutnya.

Data dan jenis data yang dijadikan bahan refleksi dapat berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Contoh data kualitatif adalah data hasil observasi tentang interaksi antar siswa atau interaksi antara siswa dengan guru. Tidak semua data hasil observasi bersifat kualitatif. Sebagai contoh, data hasil observasi tentang jumlah anak yang antusias dalam proses pembelajaran tidak dapat dikelompokkan ke dalam jenis data kualitatif, tetapi data tersebut merupakan data kuantitatif. Contoh lain data kuantitatif adalah data nilai hasil ulangan, nilai pekerjaan rumah, nilai tugas, jumlah anak yang suka mengantuk, jumlah anak yang terlibat aktif dalam kegiatan diskusi kelompok, dan lain-lain.

D.5 Perencanaan Tindakan Lanjutan.
Perencanaan tindakan lanjutan dilaksanakan apabila hasil tindakan yang telah dilakukan dinilai belum berhasil.

Jumlah siklus dalam penelitian tindakan tidak dapat ditentukan lebih dahulu tetapi tergantung terselesaikannya masalah yang diteliti. Namun jumlah siklus dapat ditentukan sebelumnya sesuai dengan bobot masalah dengan mempertimbangkan kondisi siswa dan faktor input serta proses lainnya.

Secara bagan, prosedur pelaksanaan PTK dapat dilukiskan dalam bagan seperti ditunjukkan dalam Gambar 2 di bawah.

Gambar 2. Bagan prosedur pelaksanaan PTK.

E. Proposal PTK.
Sebelum melakukan kegiatan PTK, sebaiknya setiap guru terlebih dahulu menyusun proposal PTK. Manfaat dengan adanya proposal PTK adalah:
a. Sebagai arahan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan PTK.
b. Sebagai syarat kelengkapan administrasi ketika guru akan meminta pengesahan atasan langsung tentang laporan karya tulis dengan PTK.
c. Sebagai bahan untuk memperoleh dukungan dana pelaksanaan kegiatan PTK, karena banyak sumber dana yang disediakan untuk peningkatan kompetensi profesional guru melalui PTK, namun bersifat kompetisi melalui pengusulan proposal.
Ada berbagai variasi format PTK. Berikut ini disajikan contoh format PTK yang dapat dibuat oleh guru.

Format Proposal PTK.
1. Judul
2. Masalah dan Latar Belakang Masalah
3. Cara Pemecahan Masalah
4. Tujuan Penelitian dan Manfaat
5. Kerangka Teoritis & Hipotesa Tindakan
6. Rencana Penelitian
a. Setting & Karakteristik Subyek Penelitian
b. Faktor-faktor yang diselidiki
c. Rencana Tindakan
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan Tindakan
3. Observasi dan Evaluasi
4. Analisis dan Refleksi
d. Data dan Cara Pengambilannya
e. Indikator Kinerja
f. Tim Peneliti dan Tugasnya
7. Jadwal Penelitian
8. Rencana Anggaran
9. Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran

a. Judul.
Sebaiknya judul untuk proposal PTK mengandung tiga hal, yaitu:
• Mengandung masalah yang akan diteliti/diatasi.
• Tindakan yang akan digunakan untuk mengatasi masalah.
• Seting PTK. Di kelas berapa PTK akan dilakukan, semester kapan, sekolah mana, tahun ajaran kapan.
b. Masalah dan Latar Belakang Masalah.
• Masalah PTK
Masalah yang akan diteliti/diselesaikan harus merupakan masalah guru sehari-hari yang muncul di dalam satu kelas tertentu. Jadi bukan masalah yang dirancang untuk uji-coba atau pemodelan. Tetapi harus merupakan masalah pembelajaran langsung dari kelas itu.
• Latar Belakang Masalah.
• Harus menjelaskan mengapa kira-kira masalah itu muncul di kelas itu. Ceritakan keadaan kelas itu, seperti jumlah siswa total, jumlah siswa laki-laki dan perempuan, tingkat kecerdasan siswa, prestasi sehari-hari siswa, lingkungan sekolah, dan sebagainya yang sangat terkait langsung dengan masalah yang akan diselesaikan.
c. Cara Pemecahan Masalah.
Jelaskan bagaimana masalah pembelajaran itu akan diselesaikan, berapa siklus PTK akan dilaksanakan. Tindakan apa yang akan digunakan dalam menyelesaikan masalah. Jelaskan bagaimana cara pelaksanaan tindakan.
d. Tujuan PTK dan Manfaat PTK.
• Tujuan.
Jelaskan tujuan pelaksanaan PTK. Tentu tujuan PTK ini adalah untuk menyelesaikan atau mengatasi masalah pembelajaran di kelas. Jelaskan masalah apa yang akan diselesaikan dan seberapa jauh masalah itu akan dituntaskan.
• Manfaat PTK.
Jelaskan manfaat PTK untuk siswa, untuk guru, dan untuk sekolah.
e. Kerangka Teori dan Hipotesa Tindakan (bukan Hipotesa Penelitian).
Apa yang harus dijelaskan dalam kerangka teori adalah tentang apa tindakan yang digunakan untuk mengatasi masalah, bagaimana tindakan itu harus dilaksanakan, apa kelebihan atau kekuatan tindakan yang dipilih, apa pula kelemahannya, terakhir tentutakan mana yang lebih banyak apakah kelebihannya atau kekurangannya, dan apakah kelebihan itu sesuai dengan masalah yang akan diatasi.
f. Rencana Penelitian.
a. Seting dan karakteristik sujek PTK.
Jelaskan seting PTK seperti yang tertuang dalam judul PTK dan jelaskan pula karakteristik subjek penelitian, seperti karakteristik siswa, kelas, lingkungan kelas/sekolah, dan sebagainya.
b. Faktor-faktor yang diteliti.
Jelaskan faktor apa saja yang akan diteliti. Pihak guru, faktor apa saja yang akan dilihat/diteliti. Pihak siswa, faktor apa saja yang akan dilihat dan diteliti, dan tentang interaksi siswa-siswa, serta interaksi siswa-guru faktor apa saja yang akan diteliti.
c. Rencana Tindakan.
Jelaskan jenis tindakan yang akan digunakan dan untuk berapa siklus. Sebutkan rencana tindakan untuk setiap siklus. Upayakan jenis tindakan di tiap siklus tidak sama.
d. Jenis Data dan Cara Pengumpulan data.
Jelaskan jenis data yang akan dikumpulkan sebagai bahan refleksi dan analisa data. Apa saja data kualitatif dan apa pula data kuantitatif yang akan dikumpulkan. Lalu jelaskan pula bagaimana data itu akan dikumpulkan selama kegiatan PTK dan dengan menggunakan instrumen apa.
e. Indikator Kinerja PTK.
Indikator kinerja PTK adalah ukuran ketuntasan kegiatan PTK. Jika dalam suatu siklus indikator kinerja sudah dicapai, maka kegiatan PTK dapat berakhir setelah refleksi pada siklus tersebut. Penentuan indikator kinerja PTK sangat bergantung pada kualitas dan karakteristik subjek penelitian, serta sangat bergantung pada besar- kecilnya masalah PTK. Tentukanlah indikator kinerja secara proporsional dan profesional.
f. Tim Peneliti dan Tugasnya
Jelaskan siapa ketua peneliti dan apa tugasnya, serta siapa saja yang menjadi anggota dan apa pula tugas masing-masing anggota.
g. Jadwal PTK
Buat jadwal kegiatan PTK yang rasional. Tidak terlalu lama dan tidak terlalu singkat. Sesuaikan dengan besar-kecilnya masalah PTK.
h. Rencana Anggaran.
Tuangkan dalam bentuk matrik anggaran sesuai dengan pedoman yang diminta.
i. Daftar Pustaka.
Tuliskan semua buku sumber terutama yang dijadikan bahan untuk kajian teori.
j. Lampiran-lampiran.
Lapirkan biodata Ketua Peneliti dan Anggota Peneliti.

F. Laporan PTK dalam bentuk karya tulis.
Sebagai langkah terakhir dalam sebuah kegiatan PTK adalah menulis laporan dalam bentuk karya tulis ilmiah. Laporan tersebut harus dibuat dengan mengikuti aturan penulisan karya ilmiah dengan Format Laporansebagai berikut.

Kata Pengantar
Lembar Pengesahan
Daftar Isi
Daftar Tabel.
Daftar Gambar
BAB I PENDAHULUAN
BAB II KERANGKA TEORI
BAB III LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN
BAB IV ANALISA DATA
BAB V KESIMPULAN.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB III
APLIKASI DALAM PEMBELAJARAN

Pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan sudah merupakan kebijakan pemerintah seperti diamanatkan dalam Undang-undang Republik Indonesi No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 40 ayat (2) sebagai berikut.

(2) Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban:
a. menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis;
b. mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan
c. memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Untuk mencapai apa yang diamanatkan dalam undang-undang tersebut di atas, maka guru harus dibina dan dikembangkan kemampuannya untuk senantiasa dapat melakukan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. Untuk itu, melalui kegiatan PTK guru dapat dilatih untuk menjadi seorang guru yang diinginkan.
PTK seharusnya menjadi jiwa dalam setiap proses pembelajaran, karena sesuai dengan fungsi dan tujuan PTK, yaitu berfungsi untuk melatih guru agar menjadi seseorang yang kreatif dan inovatif dalam bidang pembelajaran, sehingga guru dapat menciptakan suana pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. Dan tujuan PTK adalah untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran di kelas yang harus dilaksanakan oleh guru yang bersangkutan sedemikian rupa sehingga setiap masalah yang terkait dengan pembelajaran dapat diselesaikan langsung oleh guru itu sendiri.
PTK memungkinkan seorang guru untuk senantiasa berkreasi dan berinovasi tentang cara-cara mengatasi masalah pembelajaran, karena dalam setiap pembelajaran yang dijiwai oleh PTK, guru selalu dituntut untuk selalu merefleksikan apa yang sudah ia ajarkan atau kerjakan di dalam kelas. Melalui kegiatan refleksi inilah guru selalu berusaha untuk dapat mengidentifikasi dan menganalisa masalah-masalah pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan guru untuk menyelesaikannya. Begitu guru telah dapat mengidentifikasi dan menganalisa masalah-masalah pembelajaran tersebut, guru dilatih untuk dapat mencari berbagagi alternatif solusi untuk menyelasaikan masalah yang ia temukan sendiri di dalam kelas. Sudah barang tentu, solusi ia temukan tidak harus berlaku secara umum. Artinya, upaya tindakan perbaikan yang telah berhasil untuk menyelesaikan masalah pembelajaran di satu kelas oleh seorang guru, tidak harus berlaku pula di kelas lain untuk guru yang lain. Pendek kata, dalam PTK tidak dikenal hasil atau solusi (tindakan perbaikan) yang berlaku umum. Dengan kata lain tidak ada generalisasi hasil PTK. Yang terpenting dalam suatu kegiatan PTK adalah selesai-tidaknya masalah pembelajaran di kelas oleh guru itu sendiri. Dengan demikian, guru senantiasa dilatih untuk dapat mengatasi masalah pembelajaran di kelas.
Pada dasarnya kegiatan PTK tidak akan menjadi beban baru bagi guru, karena kegiatan PTK sesungguhnya terintegrasi dengan persiapan, pelaksanaan, dan penilaian suatu proses pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru. Jadi, PTK tidak menuntut waktu tambahan di luar jam kerja guru, tetapi dilaksanakan sesuai dengan jam tugas guru mengajar. Bedanya, dengan kegiatan pembelajaran tanpa PTK adalah dalam Pembelajaran dengan PTK guru selalu dituntut untuk merefleksi pembelajaran, mengkaji tindakan yang dilakukan dalam kelas, mengamati progres peningkatan kualitas pembelajaran, mencari alternatif perbaikan kualitas pembelajaran, berinovasi dengan model-model pembelajaran, memanfaatkan semua keahlian dalam bidang pendidikan, menerapakn ilmu-ilmu kependidikan yang pernah dipelajari di bangku kuliah, sedimikian rupa sehingga proses pembelajaran menjadi menarik, tidak monotonik, bermakna, dan menyenangkan. Sebaliknya, pembelajaran tanpa PTK, semua hal tersebut di atas sulit atau jarang terjadi.
Sesungguhnya guru tidak akan kekurangan masalah PTK, mengingat banyaknya sumber masalah yang dapat diatasi dengan PTK. Di antaranya adalah masalah yang terkait dengan siswa, guru itu sendiri, dan pola interaksi antar siswa dan pola interaksi antara siswa dengan guru.

BAB IV RANGKUMAN

1. Latar belakang ditetapkannya Penelitian Tindakan Kelas sebagai upaya peningkatan profesionalisme guru melalui penelitian tentang perbaikan kualitas proses pembelajaran adalah:
a. Hasil temuan penelitian konvensial jarang termanfaatkan oleh
b. Penelitian konvensional jarang atau tidak dilakukan oleh guru untuk tujuan memperbaiki kualitas proses pembelajaran di kelas.
c. Penelitian konvensional sering menggunakan pendekata Research-Development-Dissemination (RDD).
d. Guru kurang menghayati penelitian konvensional.
2. Pengertian PTK
PTK diturunkan dati Penelitian Tindakan (Action Research) yang memiliki pengertian sebagai berikut. “ Action research is a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out”.
Dari definisi tersebut PTK mengandung pengertian tentang hal-hal berikut:
1. Adanya pengkajian masalah situasional dan kontektual pada perilaku seseorang atau kelompok orang,
2. Ada tindakan,
3. Ada penelaahan terhadap tindakan,
4. Ada pengkajian dampak tindakan,
5. Dilakukan secara kolaboratif,
6. Berisifat Refleksi.
3. Karakteristik PTK
PTK memiliki karakteristik sebagai berikut.
a) Permasalahan sehari-hari di kelas.
b) Kontekstual.
c) Kolaboratif (partisipatori).
d) Luwes.
e) Situasional dan spesifik.
4. PRINSIP-PRINSIP PTK
a) Tidak mengganggu komitmen mengajar.
b) Tidak menuntut waktu khusus.
c) Metode yang reliabel.
d) Masalah guru.
5. Konsep dasar dan prosedur PTK dapat dilukiskan dalam Spiral PTK sebagai berikut.

6. Spiral PTK itu sesungguhnya melukiskan siklus demi siklus dalam PTK. Satu siklus terdiri atas 3 komponen PTK, yaitu rencana, tindakan/ observasi, dan refleksi. Dalam Gambar di atas ditunjukan 3 siklus.
7. MANFAAT PTK
PTK memiliki manfaat sebagai berikut.
a) Dapat menjadikan guru menjadi seorang yang Kreatif dan Inovatif.
b) Bermanfaat untuk pengembangan kurikulum di tingkat sekolah, seperti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
c) Bermanfaat untuk peningkatan profesionalisme guru
8. PTK vs Penelitian Non-PTK
PENELITIAN NON-PTK PTK
 Dilakukan oleh orang dari luar.  Dilakukan oleh guru.
 Selalu memperhatikan populasi dan sampel.
  Tak dikenal istilah populasi dan sampel.
 Kurang memperhatikan ukuran/kerepresentatifan sampel.
 validitas & reliabilitas Instrumen harus dikembangkan dan diuji.  Instrumen cukup memiliki validitas isi.
 Menuntut penggunaan analisis statistik yang kompleks  Tak digunakan analisis statistik yang rumit.
 Sering memerlukan pembanding atau kelas kontrol  Tidak memerlukan kelas kontrol sebagai pembanding keberhasilan.
 Mempersyaratkan hipotesis penelitian.  Tidak selalu menggunakan hipotesis penelitian (kecuali yang berkaitan dengan uji teori)
Tujuannya untuk:
 Mengembangkan pengetahuan umum (teori)
 Tidak langsung memperbaiki praktik pembelajaran, tetapi melalui RDD. Tujuannya untuk:
 Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung.
 Memperbaiki mutu proses pembelajaran.

9. Sebaiknya PTK dilaku kan secara kemitraan (kolaborasi) baik anta ra guru dangan guru maupun antara guru dengan dosen.
10. Prosedur Kolaboratif. Kolaborasi dilakukan dalam semua tahap kegiatan PTK yang meliputi:
1. Identifikasi dan perumusan masalah
2. Susunan organisasi Tim PTK.
3. Implementasi tindakan intervensi.
4. Laporan hasil PTK.
11. Prinsip kemitraan ada-lah berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Ide penelitian sebaik-nya muncul dari para guru. Jadi tidak harus dosen menggurui gu-ru, dan sebaliknya ti-dak perlu guru me-nempatkan diri seba-gai bawahan.
12. Dosen memang memi-liki beberapa kelebih-an dalam hal teori, te-tapi guru juga memiliki kelebihan dalam hal praktek di lapangan. Guru lebih mengetahui karakter kelasnya, dan dosen mengetahui ba-nyak teori kependidikan.
13. Tujuan PTK
Tujuan utama penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses belajar-mengajar. Dengan kata lain PTK bertujuan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran di kelas.

Tujuan penyerta yang dapat dicapai ialah berupa terjadinya proses latihan dalam jabatan selama proses penelitian tindakan kelas itu berlangsung. Hal ini dapat terjadi karena tujuan utama penelitian tindakan kelas adalah perbaikan dan peningkatan layanan pembelajaran.

14. Sebaiknya, masalah yang diteliti harus muncul dari guru itu sendiri, sebab guru yang mengetahui situasi dan kondisi siswa/ kelasnya sehari-hari. Di samping itu, masalah ini harus merupa-kan masalah yang bia-sa dihadapi guru.

15. Macam sumber masalah.
Pertama, masalah yang berkaitan dengan input dapat bersumber dari: siswa, guru, sumber belajar, materi pelajaran, pro-sedur evaluasi, dan lingkungan belajar.

Kedua, masalah yang berkaitan dengan pro-ses kegiatan belajar mengajar dapat bersumber dari: Interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya guru/siswa, gaya mengajar, cara belajar, dan implementasi me-tode pembelajaran.

Terakhir, masalah yang berkaitan dengan output dapat bersumber dari: hasil belajar siswa, daya ingat siswa, sikap negatif siswa, dan motivasi rendah.

16. Identifikasi Masalah Pembelajaran.
Contoh bagaimana cara mengidentifikasi masalah.
a. Selama guru mengajar, apakah guru merasa puas dengan hasil yang dicapai siswa?
b. Apabila guru memberi soal latihan atau tugas pekerjaan rumah, apakah guru merasa berhasil dalam melaksanakan proses pembelajaran?
c. Pada saat guru bertanya di depan kelas kepada seluruh siswa, apakah semua siswa antusias untuk menjawab pertanyaan guru.
d. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, apakah guru merasa yakin bahwa semua siswa memperhatikan dan memahami apa yang sedang dibahas/dipelajari?
e. Pada saat guru sedang menerangkan apakah semua siswa selalu memperhatikan penjelasan guru?
f. Apabila guru memberi ulangan harian/tes formatif/tes sumatif, apakah secara keseluruhan prestasi siswa sangat memuaskan?
g. Pada saat pembelajaran berlangsung dan guru memberi kesempatan bertanya pada semua siswa, apakah semua siswa antusias untuk bertanya?
h. Apabila semua siswa dalam kelas mengikuti pembelajaran melalui kegiatan diskusi kelompok, apakah setiap siswa terlibat secara aktif dalam kelompok?
i. Pernahkan guru merasakan bahwa siswa yang aktif bertanya dan aktif menjawab pertanyaan guru hanya segilintir siswa dan hanya siswa itu lagi-itu lagi yang aktif?
j. Pernahkah guru mengamati siswa yang mengantuk ketika proses pembelajaran sedang berlangsung?
k. Apakah dalam setiap proses pembelejaran aktifitas siswa cukup tinggi?
l. Apakah motivasi siswa dalam mengikuti setiap proses pembelajaran cukup tinggi?
Adakah siswa di dalam kelas yang selalu menjadi “trouble maker” atau pembuatan keonaran?

17. Jenis-jenis tindakan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran di antaranya adalah:
1. Macam-macam metode pembelajaran, seperti: metode ceramah, metode tanya-jawab, metode diskusi, metode demosntrasi, metode eksperimen, metode permainan, cara belajar siswa aktif (CBSA) atau active learning, PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan), metode problem solving, dan lain-lain.
2. Macam-macam pendekatan, seperti: pendekatan konsep, pendekatan proses, pendekatan inkuiri, pendekatan konstruktivis, pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning), Pendekatan keterampilan proses, pendekatan STM (Sains, teknologi dan masyarakat), dan pendekatan lainnya.
3. Macam-macam media, seperti: charta, bagan, model tubuh manusia, model organ manusia, peta, Tape Player, transparan/OHP (Over Head Projector), Film Strip, Film pembelajaran/pendidikan, slide proyektor, audi-video, TV Pendidikan, Laboratorium bahasa, laboratorium IPA, Laboratorium Matematika, Laboratorium IPS, Multimedia berbasis komputer, Internet, alat olah raga, sarana dan prasarana olah raga, laboratorium tataboga, laboratorium tatabusana, dan lain-lain.
4. Macam-macam alat peraga: seperti alat peraga untuk demonstrasi, alat peraga untuk eksperimen/percobaan, globe, peta bintang, peta langit, model tatasurya, teropong bintang, dan lain sebagainya.
5. Model-model pembelajaran, seperti model PAKEM, Model Discovery learning, Model Cooperative Learning, Model CBSA, Model Lesson Study, model Problem solving, model Inkuiri, dan sebagainya.

18. Perencanaan pembelajaran dalam PTK terdiri atas:
a. menyiapan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
b. merencanakan skenario pembelajaran (langkah-langkah pembelajaran) sesuai dengan tindakan yang telah dipilih,
c. menyusun instrumen evaluasi pembelajaran (Soal latihan, soal pre-post test, tugas, pekerjaan rumah, dan sebagainya.
d. Menyiapkan alat dan bahan pembelajaran yang sesuai dengan jenis tindakan yang dipilih.
e. Menyiapkan instrumen observasi, seperti catatan lapang (field note), dan/atau format observasi.
f. Meyiapkan alat bantu observasi, seperti tape recorder, camera foto, kamera video, dan sebagainya.
g. Menetapkan faktor-faktor yang akan diobsevasi/diteliti. Contoh:
 Faktor guru:
 apakah pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan skenario yang disepakati di awal?
 Apakah pelaksanaan tindakan sesuai dengan aturan main dari tindakan itu.
 Apakah guru melaksanakan proses pembelejaran sesuai dengan teori pemebelajaran yang dipilih.
 Faktor siswa:
 Respon siswa terhadap materi pelajaran.
 Respon siswa terhadap pertanyaan guru.
 Antusiasme siswa dalam mengerjakan latihan dan tugas.
 Kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa.
 Jumlah siswa yang aktif bertanya.
 Jumlah siswa yang aktif menjawab pertanyaan guru.
 Jumlah siswa yang kurang/tidak memperhatikan guru.
 Kondisi pembelajaran, apakah menyenangkan, menegangkan, membuat ngantuk, monoton.
 Faktor interaksi:
 Interaksi antar siswa
 Interaksi atara siswa dengan guru
 Aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
 Sosiogram (peta interaksi antar siswa dan antara siswa dengan guru selama proses pembelajaran berlangsung).
 Dan sebagainya

h. menetapkan tim PTK dan tugasnya masing-masing, siapa yang akan menjadi pelaku tindakan dan siapa yang akan menjadi pengamat (observer).
i. Menetapkan jumlah siklus yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

18. Prosedur PTK.
Ada beberapa tahapan yang harus dilalui seorang guru yang akan melakukan kegiatan PTK, yaitu sebagai berikut:
a. Mengembangkan fokus masalah.
b. Merencanakan tindakan.
c. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi.
d. Refleksi dan Analisa data.
e. Rencana tindakan lanjutan jika masalah belum diselesaikan secara tuntas.

19. Pengembangan Fokus Penelitian.
a. Merasakan adanya masalah.
b. Berfikir balik untuk melihat sisi lemah pembelajaran.
c. Merasakan ketidak puasan terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.
d. Ada usaha/kemauan untuk memecahkannya.
20. Untuk dapat menganalisa masalah, seorang guru dapat menggunakan bantuan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut:
a. Apakah masalah yang ia hadapi tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil.
b. Apakah masalah itu dapat diselesaikan oleh guru.
c. Apakah masalah itu terkait langsung dengan pembelajaran.
d. Apakah masalah itu perlu segera ditangani.
e. Apakah masalah itu tidak akan menimbulkan masalah baru.
f. Apakah masalah itu relevan untuk kegiatan PTK. Dan seterusnya.
21. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam merencanakan tindakan perbaikan, yaitu sebagai berikut:
a. Formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan.
b. Analisis kelayakan solusi (tindakan).
c. Persiapan pelaksanaan tindakan.
d. Inventarisasi komponen pendukung.

22. Cara menganalisa kelayakan dugaan tindakan (solusi) yang ia akan gunakan dalam kegiatan PTK yaitu sebagai berikut:
d. Kuasai dengan baik secara teoritis dan cara penggunaan tindakan itu dengan baik.
e. Kemudian pelajari apa dan seberapa banyak kebaikan-kebaikan dari solusi (tindakan) itu.
f. Pelajari juga kelemahan solusi (tindakan) itu.
g. Timbang, mana yang lebih banyak. Kebaikannya atau kelemahannya.
h. Jika ternyata kebaikan masih lebih banyak dari pada kelemahannya, sesuaikan dengan masalah yang ada, apakah kebaikan-kebaikan itu dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Jika tidak sesuai dengan masalah yang ada, maka solusi (tindakan) itu harus segera diganti.

23. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis tindakan, yaitu:
a. Kemampuan guru. Apakah guru memiliki kemampuan untuk memahami dan melaksanakan tindakan dengan baik.
b. Kemampuan siswa. Apakah siswa di kelas tersebut memiliki kemampuan untuk mengikuti pembelajaran dengan tindakan yang dipilih.
c. Ketersediaan alat pendukung di sekolah. Apakah di sekolah/kelas itu ada sarana-dan prasarana pendukung pembelajaran, seperti listrik, air, dan gas.
d. Iklim belajar di kelas. Apakah iklim belajar di kelas itu cukup kondusif untuk pelaksanaan PTK, misalya ruang cukup luas, jumlah siswa yang memadai, tidak bising, dsb.
e. Iklim kerja di sekolah. Apakah iklim kerja cukup kondusif, misalnya: kidak kekurangan guru untuk tiap matapelajaran, ada dukungan kepala sekolah dan pengawas, dsb.
24. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam Pelaksanaan PTK, yaitu:
a. Pelaksanaan tindakan melalui pelaksanaan proses pembelajaran.
b. Observasi pelaksanaan tindakan selama proses pembelajaran berlangsung sejak awal sampai akhir.
c. Evaluasi proses dan hasil pembelajaran.

25. Evaluasi proses pelaksanaan PTK dapat dilakukan dengan cara mencocokan:
a. Apakah kegiatan yang dilakukan guru dalam kelas telah sesuai dengan perencanaan semula.
b. Apakah skenario pembelajaran sesuai dengan rencana.
c. Apakah materi pelajaran yang disampaikan tidak melebar atau keluar dari yang direncanakan.
d. Apakah tidak terjadi pergantian pelaku tindakan dan pengamat.
e. Apakah penggunaan waktu pembelajaran sesuai dengan rencana semula.
f. Apakah evaluasi yang dilakukan guru sesuai dengan alat evaluasi yang disiapkan.

26. Bentuk evaluasi hasil dapat berupa:
a. Soal-saol latihan
b. Tugas-tugas.
c. Pekerjaan rumah.
d. Soal ulangan.
e. Portofolio.
f. Tugas lapangan.
g. Tugas praktek.
h. Makalah.
27. ANALISIS DAN REFLEKSI
a. Pengertian Analisis data.
Kegiatan menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, mengorganisasikan, secara sistematis dan rasional untuk memperoleh jawaban dari permasalahan penelitian.
b. Prosedur Analisis Data.
a. Reduksi data.
b. Sajian data.
c. Penyimpulan.
c. Pengertian Refleksi.
Pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan terhadap pencapaian berbagai tujuan dan untuk menentukan perlu tidaknya tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir.

Refleksi terdiri dari 4 komponen:
a. analisis,
b. pemaknaan,
c. penjelasan, dan
d. kesimpulan.

d. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam refleksi
i. Menjawab tentang penyebab kondisi yang terjadi.
ii. Merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang telah dilakukan.
iii. Memperkirakan mengenai keluhan yang dapat diperoleh.
iv. Mengidentifikasi kendala/ancaman yang mungkin dihadapi
v. Memperkirakan akibat dan implikasi dari tindakan yang direncanakan.

BAB V EVALUASI

Petunjuk. Jawablah semua pertanyaan/tugas di bawah ini pada kertas jawaban yang disediakan. Usahakan untuk bisa menjawab semua pertanyaan.

1. Buatlah 3 contoh masalah pembelajaran yang sesuai dengan kaidah PTK, dan Saudara mampu untuk menyelesaikannya dengan kegiatan PTK !
2. Tuliskan 5 macam sumber masalah yang dapat diselesaikan melalui kegiatan PTK !
3. Tuliskan prinsip-prinsip PTK !
4. Tuliskan karakteristik PTK !
5. Tuliskan 3 komponen dalam 1 siklus PTK !.
6. Apakah yang dimaksud dengan kegiatan refleksi?
7. Apa saja yang diperlukan dalam kegiatan refleksi ?
8. Siapa saja perserta kegiatan refleksi dalam suatu kegiatan PTK ?
9. Tuliskan 4 komponen kegiatan dalam refleksi !
10. Apakah perbedaan antara kegiatan PTK dan Non-PTK?
11. Mengapa guru harus dapat mengidentifikasi masalah dalam kegiatan PTK?
12. Apakah yang dimaksud dengan PTK bersifat situasional dan kontekstual?
13. Tuliskan macam-macam metode yang dapat digunakan sebagai tindakan dalam sebuah kegiatan PTK !
14. Tuliskan macam-macam pendekatan yang dapat digunakan sebagai tindakan dalam sebuah kegiatan PTK !
15. Tuliskan macam-macam media yang dapat digunakan sebagai tindakan dalam sebuah kegiatan PTK !
16. Tuliskan macam-macam alat peraga yang dapat digunakan sebagai tindakan dalam sebuah kegiatan PTK !
17. Tuliskan macam-macam model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai tindakan dalam sebuah kegiatan PTK !
18. Apakah yang dimaksud dengan indikator kinerja PTK?
19. Faktor apakah yang mempengaruhi penentuan indikator kinerja PTK?
20. Tuliskan beberapa hal yang terkait dengan pengembangan fokus masalah !
21. Tuliskan beberapa hal yang terkait dengan perencanaan tindakan dalam sebuah PTK !
22. Apakah dalam yang dimaksud dengan hipotesa tindakan?
23. Tuliskan satu contoh hipotesa tindakan?
24. Apakah dalam kegiatan PTK diperlukan adanya kelas pembanding atau kelas kontrol?
25. Tuliskan beberapa hal yang terkait dengan analisis tindakan !
26. Tuliskan contoh bagaimana cara menganalisa kelayakan suatu tindakan yang akan digunakan dalam PTK !
27. Tuliskan tiga faktor utama yang biasa diteliti dalam sebuah PTK !
28. Tuliskan tiga syarat utama untuk penulis judul penelitian dalam sebuah proposal PTK !
29. Apa saja yang harus diperhatikan dalam menuliskan kerangka teori dalam sebuah kegiatan PTK.
30. Buatlah sebuah draf proposal PTK yang dapat dilakukan oleh Saudara dengan masalah konkrit berasal dari kelas tempat Saudara mengajar !

DAFTAR PUSTAKA

1. Panduan Penulisan Modul Pilot BERMUTU, Direktorat Pembinaan Diklat, Ditjen PMPTK, 2007.
2. Prof. Dr. T. Raka Joni, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, Proyek PGSM, Ditjen Dikti-Depdiknas, 1999.
3. Topik 1, Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK, Depdiknas, 2007.
4. Topik 2, Menyusun Usulan Penelitian Tindakan Kelas, Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK, Depdiknas, 2007.
5. Topik 3, Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK, Depdiknas, 2007.
6. Topik 4, Menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas Dalam Bentuk Makalah Dan Artikel, Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK, Depdiknas, 2007.

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: